• Sabtu, 18 April 2026

Starbucks Kurangi Operasional Pabrik Kopi di Lima Negara Bagian AS, Dampak Boikot?

Photo Author
Ari DP, Konteks.co.id
- Minggu, 24 Agustus 2025 | 11:07 WIB
Starbucks melaporkan laba yang lebih rendah di tengah tantangan ekonomi (foto: twitter.com/@parasizceo)
Starbucks melaporkan laba yang lebih rendah di tengah tantangan ekonomi (foto: twitter.com/@parasizceo)

KONTEKS.CO.IDStarbucks Corp. mengurangi jadwal operasional di lima pabrik pemanggangan dan pengemasan kopi di Amerika Serikat sebagai langkah efisiensi biaya.

Mulai Januari, pabrik-pabrik tersebut tidak lagi beroperasi tujuh hari seminggu, melainkan hanya lima hari.

Lima fasilitas yang terdampak kebijakan ini berlokasi di Augusta (Georgia), Sandy Run (South Carolina), York (Pennsylvania), Carson Valley (Nevada), dan Kent (Washington).

Baca Juga: Gara-Gara Tarif Impor, Harga Kopi di AS Tembus Rp300 Ribu per Kilogram

Selama ini, pabrik-pabrik tersebut beroperasi penuh 24 jam sehari untuk memenuhi kebutuhan jaringan gerai Starbucks maupun produk kopi kemasan bermerek Starbucks di supermarket.

Keputusan pengurangan operasional ini diambil setelah manajemen menilai permintaan saat ini bisa dipenuhi tanpa harus mempertahankan jadwal produksi tujuh hari kerja.

Perusahaan tidak merinci jumlah tenaga kerja yang terdampak, dan menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Baca Juga: Strategi Starbucks Bangkitkan Penjualan yang Lesu karena Boikot

Menurut laporan tahunan, fasilitas produksi Starbucks memegang peran penting dalam rantai pasok global perusahaan.

Misalnya, pabrik di Augusta, Georgia, memproduksi hampir seluruh bubuk Frappuccino untuk gerai Starbucks di seluruh dunia serta sebagian besar produk blonde espresso roast.

Langkah pengurangan operasional ini menjadi bagian dari strategi Starbucks untuk menekan biaya, sembari mengalokasikan dana ke peningkatan layanan dan kenyamanan di gerai.

Baca Juga: Indonesia Kejar Tarif Impor Nol Persen untuk Ekspor Kakao, Kopi, dan Sawit ke AS, Sampai Mana Usahanya?

Chief Financial Officer Cathy Smith mengatakan perusahaan harus mengelola pengeluaran untuk membiayai inisiatif tersebut, termasuk investasi sebesar 500 juta dolar AS guna menambah staf di gerai.

Sebagai kompensasi, Starbucks meminta para eksekutif menahan pengeluaran dan menawarkan hibah saham senilai USD6 juta yang hanya bisa dicairkan jika target pengurangan biaya operasional tercapai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ari DP

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Paus Leo XIV Merespons Serangan Terbaru Trump

Kamis, 16 April 2026 | 09:25 WIB
X