KONTEKS.CO.ID - Pemerintah Indonesia memastikan belum akan menambah pembelian jet tempur Rafale buatan Prancis.
Meski spekulasi sempat menguat usai pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris.
Juru bicara Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait, menegaskan pembahasan kedua pemimpin lebih bersifat umum.
Baca Juga: Gelombang Pemulangan WNI dari Iran Sudah Berjalan
Hal itu terkait kerja sama pertahanan, bukan keputusan teknis pembelian alutsista baru.
“Tidak ada detail teknis yang bisa kami sampaikan saat ini,” katanya.
“Sampai hari ini, Indonesia belum memutuskan untuk menambah unit Rafale. Pemerintah masih mengkaji,” ia menambahkan.
Sebelumnya, pada 2022, Indonesia menandatangani kontrak pembelian 42 unit jet tempur Rafale senilai USD8,1 miliar dari perusahaan dirgantara Prancis, Dassault Aviation.
Kontrak tersebut mencakup paket lengkap, mulai pesawat siap pakai, pelatihan awak, dukungan logistik, hingga fasilitas pusat pelatihan dengan simulator misi penuh.
Pengiriman jet dilakukan secara bertahap. Tiga unit pertama telah tiba pada Januari lalu, sementara tiga unit berikutnya dijadwalkan datang pada awal Mei 2026.
Baca Juga: Jaringan Perdagangan Satwa Dilindungi Dibongkar, 11 Tersangka Ditangkap, Komodo Korban Terbanyak
“Pengiriman selanjutnya direncanakan pada awal Mei,” kata Rico.
Pertemuan Prabowo dan Macron sebelumnya memicu spekulasi adanya tambahan pesanan.
Artikel Terkait
Rafale F4 Prancis Hadir, Indonesia Negara dengan Pesawat Tempur Campuran Paling Beragam di Dunia
Daftar Negara Pembeli Jet Tempur Rafale Terbanyak pada 2025, Indonesia Masuk Tiga Besar
Tiga Jet Tempur Rafale Tiba di Indonesia, TNI AU Mulai Perkuat Pertahanan Udara dari Pekanbaru
Spesifikasi Jet Rafale, Keunggulan Tempur yang Kini Perkuat TNI AU: Multi Misi dengan Sensor Canggih