KONTEKS.CO.ID - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini potensi selama musim kemarau 2026.
Menurut BMKG, cuaca terik dan hujan bisa saling bergantian selama masa pancaroba atau peralihan musim penghujan ke kemarau.
Meski demikian, BMKG memprakirakan hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia sepekan ke depan atau periode 17 hingga 23 April 2026.
Baca Juga: Kementerian Pertahanan Masih Hati-Hati Menyikapi Temuan Alat Sensor Bawah Laut di Selat Lombok
Catatan BMKG, terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 13–15 April 2026.
Kemudian, curah hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem terpantau di Jawa Barat (167,4 mm/hari), Lampung (95 mm/hari), Papua Barat (87,8 mm/hari), Sumatra Utara (86,2 mm/hari), Riau (86 mm/hari), Maluku Utara (69,3 mm/hari), Sumatra Barat (62,9 mm/hari), Sulawesi Selatan (55,8 mm/hari) dan Bengkulu (53 mm/hari).
“Kondisi tersebut dipicu oleh aktivitas sejumlah gelombang atmosfer, seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) di beberapa wilayah, serta pengaruh spasial Madden-Julian Oscillation (MJO) yang terpantau melintasi sebagian besar Sumatera dan Papua," ujar BMKG dalam keterangan resmi, Jumat 17 April 2026.
"Selain itu, perlambatan angin dan pemanasan permukaan yang cukup kuat pada siang hari turut mendukung terbentuknya awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan,” lanjutnya.
BMKG juga mendeteksi Bibit Siklon Tropis 92S di Samudra Hindia bagian barat daya Lampung, serta sirkulasi siklonik juga terpantau di Samudra Hindia selatan Lampung, Kalimantan Barat, dan Laut Arafuru.
Baca Juga: Andrie Yunus Kirim Surat ke Prabowo, Bagaimana Perkembangan Kasus Saya?
Bibit Siklon Tropis 92S itu memicu terbentuknya daerah pertemuan angin, konvergensi, dan konfluensi.
Dengan demikian, akan meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan baik di sekitar pusat sirkulasi maupun di wilayah yang terdampak pola angin tersebut.
BMKG memprediksi kondisi cuaca di Indonesia sepekan ke depan masih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dalam skala global, regional, dan lokal.
Di skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral.
Artikel Terkait
BMKG Ingatkan Ancaman Serius 2026: Kemarau Akan Lebih Panjang, Waspada Karhutla dan Kekeringan Parah
BMKG Ingatkan Kemarau 2026 Bakal Lebih Kering, Titik Api Karhutla Berpotensi Melonjak
Bukan Ekstrem, BMKG Sebut Kemarau 2026 Lebih Kering Dibanding Rata-rata 30 Tahun
BMKG Bantah Kemarau 2026 Terparah dalam 30 Tahun, tapi Ingatkan Curah Hujan Akan Lebih Sedikit
BMKG Bantah Istilah 'El Nino Godzilla', tapi Tegaskan Ancaman Kemarau Panjang Nyata Adanya