KONTEKS.CO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan potensi perubahan iklim global yang dapat memengaruhi Indonesia pada 2026.
Salah satu perhatian utama adalah kemungkinan munculnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini yang berisiko memperpanjang musim kemarau.
Paparan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Fenomena El Nino yang digelar Kepolisian Negara Republik Indonesia di Mabes Polri, Jakarta Selatan pakan ini.
Rakor Nasional Bahas Ancaman Iklim
Pertemuan tersebut dihadiri Sekretaris Utama BMKG Guswanto bersama Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab.
Baca Juga: BMKG Bantah Kemarau 2026 Terparah dalam 30 Tahun, tapi Ingatkan Curah Hujan Akan Lebih Sedikit
Rapat dipimpin Wakil Kepala Polri dan diikuti secara daring oleh jajaran Polda se-Indonesia serta Unit Pelaksana Teknis BMKG di berbagai daerah.
Forum ini digelar sebagai langkah memperkuat kesiapsiagaan nasional menghadapi dampak anomali iklim, terutama ancaman kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau mendatang.
BMKG: ENSO Masih Netral, Ada Tanda Pergeseran
Dalam pemaparannya, Guswanto menjelaskan kondisi iklim global saat ini masih berada dalam fase ENSO netral dan diperkirakan bertahan hingga pertengahan 2026.
Namun, analisis terbaru BMKG menunjukkan adanya perubahan pola atmosfer yang mengarah pada peluang munculnya El Nino di paruh kedua tahun ini.
“Hasil analisis BMKG pada akhir Maret 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II tahun 2026, dengan peluang berkisar antara 50 hingga 80 persen. Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal,” jelas Guswanto, dikutip pada Jumat, 17 April 2026.
Dampak yang Perlu Diwaspadai
Jika El Nino benar terjadi, dampaknya dapat dirasakan di banyak sektor. Mulai dari berkurangnya curah hujan, ancaman kekeringan, gangguan pertanian, krisis air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karena itu, BMKG menilai langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini, terutama di daerah rawan karhutla.
BMKG Bantah Istilah 'El Nino Godzilla'
Pada kesempatan itu, BMKG juga menanggapi istilah 'El Nino Godzilla' yang belakangan ramai dibahas di publik.
Baca Juga: BMKG Deteksi Aktivitas Tektonik di Pagi Buta, Gempa Kedalaman Ekstrem Bikin Warga Maluku Waspada
Menurut Guswanto, istilah tersebut bukan terminologi resmi dalam dunia klimatologi dan tidak digunakan dalam komunikasi ilmiah.
“Dalam penyampaian informasi kepada masyarakat, BMKG senantiasa menggunakan istilah serta hasil analisis ilmiah berbasis data untuk menggambarkan kondisi dan potensi perkembangan iklim secara akurat, objektif, dan bertanggung jawab,” tegasnya.
BMKG mendorong pemerintah pusat dan daerah mempercepat koordinasi serta langkah mitigasi menghadapi potensi El Nino.
Upaya itu meliputi pemetaan wilayah rawan kebakaran, kesiapan sumber daya air, penguatan sistem peringatan dini, hingga edukasi masyarakat.***
Artikel Terkait
BMKG Ingatkan Ancaman Serius 2026: Kemarau Akan Lebih Panjang, Waspada Karhutla dan Kekeringan Parah
BMKG Ingatkan Kemarau 2026 Bakal Lebih Kering, Titik Api Karhutla Berpotensi Melonjak
BMKG Deteksi Aktivitas Tektonik di Pagi Buta, Gempa Kedalaman Ekstrem Bikin Warga Maluku Waspada
Bukan Ekstrem, BMKG Sebut Kemarau 2026 Lebih Kering Dibanding Rata-rata 30 Tahun
BMKG Bantah Kemarau 2026 Terparah dalam 30 Tahun, tapi Ingatkan Curah Hujan Akan Lebih Sedikit