• Sabtu, 18 April 2026

Dulu PPP 'Tersesat' oleh Sinyal Rumit Jokowi, Kini Kuncinya Baca Arah Terbuka Prabowo

Photo Author
Agha Nur Sabri A, Konteks.co.id
- Jumat, 26 September 2025 | 09:37 WIB
Puthut EA (Tangkapan Layar Kanal Youtue Total Poltik)
Puthut EA (Tangkapan Layar Kanal Youtue Total Poltik)

KONTEKS.CO.ID - Budayawan dan analis politik, Puthut EA, menilai bahwa kegagalan bersejarah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) lolos ke parlemen pada Pemilu 2024 disebabkan oleh kesalahan fatal dalam membaca sinyal politik Presiden Joko Widodo yang sangat kompleks dan ambigu.

Kini, jelang Muktamar ke-10 yang krusial, Puthut menegaskan bahwa kunci kebangkitan partai berlambang Ka'bah tersebut adalah kemampuannya membaca arah kekuasaan Presiden Prabowo Subianto, yang dinilainya memiliki gaya komunikasi yang jauh lebih terbuka dan lugas.

Menurut Puthut, pada masa menjelang Pemilu 2024, semua tanda yang diperlihatkan Presiden Jokowi secara kasat mata atau ceto welo-welo dalam istilah Jawa memang mengarah pada dukungan untuk Ganjar Pranowo.

Baca Juga: RUPTL 2025–2034: Janji Hijau PLN Cuma Manis di Dokumen, Pahit di Batu Bara

Hal ini membuat keputusan Ketua Umum PPP, Mardiono, untuk mendukung Ganjar menjadi sebuah langkah yang sangat rasional pada saat itu.

Namun, Puthut menyebut gaya politik Jokowi yang sulit ditebak pada akhirnya membuat PPP dan banyak pihak lainnya tersesat.

"Sampai sekarang saya kira belum ada satupun para analis politik yang bisa menerbitkan buku tentang membaca perilaku politik Presiden Jokowi yang bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual," ujar Puthut EA dalam video yang ada di kanal Youtube Total Politik pada Kamis, 25 September 2025.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Ditantang Tagih Dana BLBI yang Dinikmati Bank BCA: Rp60 Triliun, Belum Termasuk Bunga!

Puthut menggunakan lensa budaya Jawa untuk menjelaskan perbedaan fundamental antara kedua pemimpin tersebut.

Gaya politik Jokowi ia sebut sebagai "Jawa Mataraman", yang lebih halus, penuh dengan simbol, dan seringkali menyimpan maksud tersembunyi diibaratkannya seperti "keris yang ditaruh di belakang".

Gaya inilah yang menurutnya sangat sulit diinterpretasikan dan kerap menimbulkan salah tafsir.

Baca Juga: China Open 2025: Sempet Rebut Set Pertama, Petenis RI Janice Tjen Harus Akui Ketangguhan Aliaksandra Sasnovich

Sebaliknya, gaya politik Prabowo dikategorikannya sebagai "Jawa Banyumasan", yang memiliki karakter lebih terbuka, langsung, dan blakasuta (blak-blakan).

"Kalau Pak Prabowo saya kira akan lebih clear, ya," tambahnya. Gaya komunikasi yang lebih mudah dibaca ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi elite PPP.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Eko Priliawito

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X