• Sabtu, 18 April 2026

Prof Henri: Demo Akumulasi Berbagai Masalah Tak Diatasi Pemerintah

Photo Author
Setiawan Konteks, Konteks.co.id
- Jumat, 29 Agustus 2025 | 16:10 WIB
Momen pascarantis melindas ojol. Guru Besar FISIP Unair Prof Henri Subiakto mengatakan, Prabowo harus tegas copot Kapolri Listyo Sigit Prabowo. (KONTEKS.CO.ID/Ist)
Momen pascarantis melindas ojol. Guru Besar FISIP Unair Prof Henri Subiakto mengatakan, Prabowo harus tegas copot Kapolri Listyo Sigit Prabowo. (KONTEKS.CO.ID/Ist)

KONTEKS.CO.ID – Guru Besar Fisip Universitas Airlangga (Unair), Prof Henri Subiakto, menilai aksi unjuk rasa hingga protes keras atas tewasnya driver ojol terlindas rantis Brimob, merupakan puncak kekesalan atas berbagai persoalan yang tidak diatasi pemerintah.

"Sekarang terjadi akumulasi kekecewaan. Rakyat kecewa keadaan ekonomi yang terpuruk," kata Prof Henri dalam opininya pada Jumat, 29 Agustus 2025.

Persoalan lainnya, lanjut Prof Henri, jumlah pengangguran yang menumpuk dan harga kebutuhan yang melambung. Ditambah adanya tontonan arogansi dan kekejaman aparat membuat keadaan kian memanas.

Baca Juga: Prof Henri: Prabowo Harus Tegas Copot Kapolri Listyo Sigit

"Jangan sakiti rakyat. Jangan pongah di depan rakyat. Jangan arogan pada rakyat," ujarnya.

Ia menegaskan, rakyat itu tiap saat perhatian dan mengawasi perilaku pemegang kekuasaan. Sekali salah bertindak, tindakan itu akan nyebar dan jadi bahan perbincangan.

"Apa yang terjadi dengan aksi polisi saat nangani demo, dalam hitungan menit langsung nyebar. Begitupun kejadian Brimob melindas ojol, atau polisi nempeleng demonstran, langsung nyebar jadi pemicu kemarahan," katanya.

Ia mengungkapkan, di era media sosial (medsos) penularan dan kemarahan kolektif itu bisa muncul begitu cepat. Perilaku arogansi oknum polisi, tidak bisa sembunyi dari kamera masyarakat.

"Drama kekerasan di medsos bisa jadi pemicu kemarahan dan antipati," katanya.

Baca Juga: Hendropriyono Klaim Tahu Dalang Asing Penggerak Demo Rusuh di Jakarta

Menurut Prof Henri, polisi dianggap sebagai alat penguasa yang hanya membela struktur politik dan ekonomi, tapi represif pada rakyat sendiri. Padahal penguasa kebijakannya dirasa jauh dari empati dan demokrasi.

"Terkesan meremehkan kritikan, hingga perilaku penuh kepalsuan," ujarnya.

Ia menilai, tak heran jika rakyat, terutama anak muda jadi mudah terprovokasi ikut demo yang kadang anarkis.

Walau dikatakan tidak memiliki isu politik yang signifikan dan tokoh penanggung jawab serta agenda yang nampak jelas, tapi demonya berlangsung masif dan agresif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiawan Konteks

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X