• Sabtu, 18 April 2026

Selat Hormuz Kembali Stabil, Dua Kapal Pertamina Bendera Panama dan Singapura Diklaim Sudah Umum

Photo Author
Ari DP, Konteks.co.id
- Sabtu, 18 April 2026 | 16:47 WIB
Kapal tanker dan peti kemas lalu lalang di Selat Hormuz sebelum perang AS-Israel keroyok Iran. (Foto: Saudi Gazette)
Kapal tanker dan peti kemas lalu lalang di Selat Hormuz sebelum perang AS-Israel keroyok Iran. (Foto: Saudi Gazette)

KONTEKS.CO.ID - Dibukanya kembali Selat Hormuz setelah gencatan senjata antara Israel dan Lebanon menjadi angin segar bagi rantai pasok energi global, meski risiko geopolitik masih membayangi.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Aragchi, menyatakan jalur tersebut kini “sepenuhnya terbuka” untuk kapal komersial selama periode gencatan senjata berlangsung.

Namun, kapal-kapal yang melintas tetap diwajibkan mengikuti jalur terkoordinasi sebagai langkah pengamanan.

Baca Juga: Resmi, Pertamina Siapkan Kepulang Dua Kapal Tanker setelah Dua Bulan Tertahan di Selat Hormuz

Penutupan sebelumnya terjadi setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang kemudian memicu ketegangan regional dan gangguan pasokan minyak dunia.

Pemerintah Indonesia sendiri telah lebih dulu menerima sinyal positif dari Iran terkait pembukaan jalur ini sejak akhir Maret.

Meski demikian, proses teknis untuk pemulangan kapal masih membutuhkan persiapan matang.

Baca Juga: Perangi Obesitas, Kemenkes Rilis Aturan Cegah Konsumsi Gula Berlebih

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menegaskan tidak ada hambatan terkait penggunaan bendera asing oleh kapal tanker Indonesia.

“Tidak ada masalah terkait penggunaan ‘flag of convenience’ oleh kapal tanker Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers.

Salah satu kapal, Gamsunoro, diketahui menggunakan bendera Panama, sementara Pertamina Pride berlayar dengan bendera Singapura.

Baca Juga: Perbandingan Lengkap Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo, dan BP: Siapa Paling Murah?

Disampaikan Yvonne praktik itu sudah umum dalam industri pelayaran global untuk efisiensi operasional.

Meski situasi perairan mulai kondusif, pemerintah dan pelaku industri tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat kembali mengganggu jalur distribusi energi dunia.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ari DP

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X