"Jadi ada indikator-indikator yang menunjukkan bahwa memang terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), tapi penciptaan lapangan kerja baru juga terjadi dan itu lebih banyak," ungkap Hasan.
Dalam kesempatan ini, Hasan juga mengungkapkan pemerintah telah mengelontorkan paket insentif. Dia berharap dengan kebijakan ini ekonomi Indonesia bisa bergerak dan tumbuh lebih baik.
Baca Juga: Mendikdasmen Mengingatkan Provinsi Harus Mematuhi Pusat soal Jam Masuk Sekolah
Dia pun melihat konteks ekonomi nasional tidak bisa dilepaskan dengan faktor global. Saat ini, konflik geopolitik dan perang dagang mempengaruhi ekonomi global dan mempengaruhi ekonomi nasional.
Kendati demikian, dia melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,87% pada kuartal I-2025 masih lebih baik dibanding beberapa negara lain.
"Kemarin perang itu agak-agak mendekat ke kita. Pasti terganggu supply chain dunia. Ada perang tarif. Pasti terganggu perdagangan dunia. Itu juga punya impact terhadap bangsa kita," katanya.
"Tapi di tengah-tengah istilah yang disebutkan orang sering itu, ketidakpastian global jadi kata-kata mantra hari ini, kita masih tumbuh cukup baik," katanya.
"Kita masih tumbuh hampir 5%. Sementara negara-negara lain mungkin hanya 1-2% atau bahkan masih minus. Jadi kita punya amunisi lebih dari cukup untuk tetap optimis," tutup Hasan.***
Artikel Terkait
Ranperda Larangan Merokok Harus Dikaji Ulang, Picu PHK Besar-besaran, Pukul Usaha Hotel, UMKM Hingga Pelaku Seni
Banjir Barang Impor Lebih Murah, 3 Juta Buruh Tekstil di Depan Pintu PHK
Restoran dan Hotel Siap-Siap PHK Massal: 70 Persen Pengusaha Teriak Nggak Kuat Lagi
TikTok Shop PHK Massal di Indonesia, Ratusan Karyawan Terdampak Usai Merger dengan Tokopedia