Selain itu, Presiden Marcos menginstruksikan Kementerian Keuangan dan bank sentral memantau dampak konflik terhadap nilai tukar peso, remiten pekerja migran, serta potensi depresiasi mata uang.
Baca Juga: Pertama sejak 1967, MUI Kecam Keras Larangan Salat Id di Masjid Al Aqsa: Dunia Islam Harus Melawan!
Deklarasi ini muncul di tengah kritik sejumlah senator yang menilai pemerintah sebelumnya bergerak terlalu lambat dalam merespons kenaikan harga minyak.
Mereka memperingatkan inflasi berpotensi melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun jika situasi tidak segera ditangani.
Di sisi lain, kelompok transportasi, penumpang, dan konsumen berencana menggelar mogok nasional selama dua hari mulai Kamis.
Baca Juga: Iran Pamer Puing LUCAS, Drone Murah AS yang Dituding sebagai Tiruan Shahed
Pemogokan ini untuk memprotes tingginya harga bahan bakar dan menilai pemerintah belum memberikan solusi konkret.***
Artikel Terkait
Kapal Feri Tenggelam di Filipina Selatan, 18 Orang Meninggal dan Puluhan Masih Hilang
Pemerintah Filipina Khawatirkan Tren Anak Hamil yang Terus Naik: Kini Usia 9 Tahun Sudah Melahirkan
Perang Teluk Picu Lonjakan Harga Minyak, Filipina Terapkan Kerja Empat Hari
Ditahan Imbang Klub Filipina, Dewa United Gagal ke Semifinal AFC Challenge League