3. Haikal, Tetap Salat Meski Terhimpit Reruntuhan
Cerita mengharukan juga datang dari Syahlendra Haical (13) atau Haikal, santri asal Probolinggo yang terjebak selama dua hari di bawah puing bangunan.
Saat ditemukan, Haikal masih bisa berbicara, meski tubuhnya terhimpit di bagian pinggang.
“Semuanya sakit,” katanya lirih saat petugas mencoba menariknya keluar.
Baca Juga: Warga Jawa Barat Wajib Tahu, Gubernur Dedi Mulyadi Terbitkan Edaran Donasi Rp1.000 per Hari
Setelah berhasil dievakuasi pada Rabu, 1 Oktober 2025, Haikal menceritakan bahwa dirinya tetap menunaikan salat dalam posisi berbaring di tengah reruntuhan.
Ia bahkan sempat mengajak temannya untuk salat bersama, namun temannya meninggal dunia saat salat Subuh.
“Waktu Isya dia masih sahut, tapi pas Subuh sudah diam. Saya tahu dia sudah nggak ada,” ujar Haikal dengan mata berkaca-kaca.
Kisah keteguhan imannya membuat banyak relawan menitikkan air mata saat proses evakuasi berlangsung.
Baca Juga: aespa Umumkan Konser di Jakarta 2026, Ini Jadwal dan Harga Tiket Lengkapnya
4. Al Fatih, Baru Sadar Musala Ambruk Setelah Dievakuasi
Korban selamat lainnya, Al Fatih Cakra Buana (14), sempat mengira dirinya hanya tertidur lama sebelum akhirnya disadarkan bahwa bangunan musala tempatnya berada telah ambruk.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sempat menyebut kisah Fatih sebagai keajaiban kecil.
“Ternyata selama tiga hari dia seperti tertidur. Baru sadar ketika dievakuasi bahwa bangunan di sekitarnya ambruk,” ungkap Khofifah di Sidoarjo.
Baca Juga: 300 BTS 4G LTE dan Hyper 5G Amankan Konektivitas di MotoGP Mandalika 2025
Fatih mengaku selama terjebak ia bermimpi minum air dengan selang dan berjalan di tempat gelap.
“Rasanya nyata banget, seperti nggak terjadi apa-apa. Pas sadar, saya baru tahu semuanya roboh,” katanya.
Keberuntungan Fatih datang karena tubuhnya tertutup pasir dan kepalanya terlindungi seng, membuatnya selamat tanpa luka berat.
Kini, seluruh korban yang selamat tengah menjalani pemulihan di rumah sakit dengan pendampingan psikolog.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama BNPB dan Kementerian PUPR tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur bangunan pesantren lain di wilayah tersebut.
Tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dan pengawasan konstruksi bangunan pendidikan, terutama di kawasan padat santri.
Di balik kesedihan, kisah para korban selamat menjadi simbol keteguhan iman, harapan, dan keajaiban yang nyata.***
Artikel Terkait
Korban Meninggal Dunia Ponpes Al Khoziny Ambruk di Sidoarjo Bertambah Jadi 8 Orang, Semuanya Santri
Tim SAR Cari 54 Korban Musala Ambruk di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo dengan Alat Berat, Keluarga Sudah Ikhlas
Tim SAR Gunakan Alat Berat, 10 Korban Tewas dan 55 Masih Hilang di Runtuhnya Ponpes Al Khoziny
Korban Meninggal Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny Bertambah Jadi 14 Orang dan 49 Masih Dicari
Update Korban Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Ambruk: 9 Sampel DNA Korban Dikirim ke Jakarta