• Sabtu, 18 April 2026

RUPTL 2025–2034 Paling Hijau? PLN Masih Terjebak Batu Bara hingga Ujung Dekade

Photo Author
Rat Nugra, Konteks.co.id
- Rabu, 24 September 2025 | 09:47 WIB
RUPTL hijau PLN, masih sekadar janji? (Instagram @pln123_official)
RUPTL hijau PLN, masih sekadar janji? (Instagram @pln123_official)

“Ketergantungan pada fosil tetap berlanjut,” tulis laporan CREA, 24 September 2025.

Baca Juga: Erick Thohir Pangkas 191 Jadi 20 Permen, Cabut Aturan Kontroversial Demi Reformasi Olahraga Nasional

JETP dan Janji yang Belum Pasti

Transisi energi Indonesia sebenarnya didorong oleh kemitraan internasional bernama Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai US\$ 20 miliar.

Dalam perjanjiannya, pemerintah berjanji menurunkan emisi sektor listrik sebelum 2030 dan menggenjot EBT hingga 44 persen.

Sayangnya, implementasi di lapangan masih terseok. Dana hibah terlalu kecil, pinjaman tidak menarik, dan negosiasi pensiun dini PLTU seperti Cirebon-1 belum juga tuntas.

“Kalau dana JETP saja belum jelas, bagaimana kita bisa yakin lonjakan energi bersih terjadi tepat waktu?” ujar Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR.

Baca Juga: DPR dan Pemerintah Sepakat Percepat Revisi UU BUMN, Target Rampung Sebelum Sidang 2025–2026

PLN: Hijau di RUPTL, Abu-Abu di Lapangan?

PLN berdalih bahwa transisi energi harus bertahap dan realistis. Gas dianggap sebagai “jembatan” untuk menjaga keandalan pasokan.

Perusahaan juga menegaskan bahwa proyek fosil yang sudah masuk pipeline akan tetap diselesaikan.

Namun pendekatan ini menimbulkan risiko besar. Model “back loaded” atau proyek yang menumpuk di akhir periode bisa menciptakan bottleneck dalam pembiayaan, perizinan, dan rantai pasok.

“Semakin lama transisi ditunda, semakin berat beban yang harus diselesaikan sekaligus,” tulis Pusat Penelitian DPR dalam kajiannya.

Baca Juga: GNI Tembus Rp91,9 Juta per Tahun, Targetkan Pendapatan Warga RI Rata-Rata Rp7,6 Juta per Bulan

Janji Hijau Tak Cukup di Atas Kertas

Transisi energi bukan hanya soal angka dan megawatt. Ini menyangkut kualitas udara, kesehatan jutaan warga, dan masa depan iklim Indonesia.

Ketika negara lain mempercepat langkah menuju energi bersih, Indonesia tampaknya masih memelihara ketergantungan pada batu bara.

“Semakin lama kita menunggu, semakin mahal biaya yang harus dibayar,” tegas peneliti CREA.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Rat Nugra

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X