• Sabtu, 18 April 2026

Peta Baru Kekuasaan Kazakhstan Pasca-Referendum, Analis: Lebih Terpusat dan Terkontrol

Photo Author
Lopi Kasim, Konteks.co.id
- Sabtu, 11 April 2026 | 19:29 WIB
Analis geopolitik Eurasia Strategi Institute, Fauzan Luthsa soal usai referendum konstitusi di Kazakhstan (Foto: Istimewa)
Analis geopolitik Eurasia Strategi Institute, Fauzan Luthsa soal usai referendum konstitusi di Kazakhstan (Foto: Istimewa)

Sementara, dalam konteks kawasan, Fauzan menekankan bahwa stabilitas Kazakhstan memiliki dampak lebih luas bagi Eurasia.

Baca Juga: OTT KPK Juga Amankan Adik Bupati Tulungagung yang Jadi Anggota Dewan

Negara yang terkonsolidasi secara institusional dinilai lebih mampu menjaga keseimbangan regional.

"Vacuum of power di Kazakhstan bukan hanya persoalan domestik. Itu bisa menjadi risiko strategis bagi kawasan secara keseluruhan,” ujarnya.

Dia lantas mengaitkan dinamika Kazakhstan dengan pengalaman negara-negara Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Singapura. Pandangan Fauzan, pendekatan stabilitas yang diambil Astana memiliki kemiripan dengan fase tertentu dalam sejarah politik kedua negara tersebut.

"Indonesia pernah mengalami penguatan eksekutif dalam konteks menjaga keutuhan negara, seperti pada era Demokrasi Terpimpin di bawah Soekarno," ujarnya.

"Sementara itu, Singapura menunjukkan bagaimana stabilitas menjadi basis utama pembangunan melalui gaya kepemimpinan yang diadopsi oleh Lee Kuan Yew,” imbuhnya.

Baca Juga: Prabowo Dijadwalkan Bertemu Vladimir Putin di Rusia, Ini yang Dibahas

Meski demikian, Fauzan menegaskan bahwa Kazakhstan tetap memiliki karakteristik unik yang tidak dapat disamakan dengan negara lain.

"Ini adalah model khas Eurasia, dengan konteks geografis, sumber daya, dan situasi geopolitik yang berbeda,” sebutnya.

Dia menilai, seluruh rangkaian kebijakan yang diambil pemerintah Kazakhstan kini mengarah pada pembentukan sistem yang lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

"Yang sedang dibangun adalah semacam arsitektur stabilitas—sebuah mekanisme untuk memastikan negara tetap berjalan dalam kondisi global yang tidak menentu,” katanya.

Perubahan konstitusi 2026, tambahnya, menjadi penanda bahwa Kazakhstan telah memasuki fase baru dengan arah politik yang lebih terdefinisi di tengah lanskap dunia yang semakin multipolar.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Lopi Kasim

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Paus Leo XIV Merespons Serangan Terbaru Trump

Kamis, 16 April 2026 | 09:25 WIB
X