KONTEKS.CO.ID - Hubungan bilateral antara Jerman dan Indonesia menghadapi momen krusial setelah Friedrich Merz resmi menjabat sebagai Kanselir Jerman pada Mei 2025.
Simon Hutagalung, mantan diplomat Kementerian Luar Negeri RI, menilai kemitraan bersejarah kedua negara sejak 1952 harus diperkuat dengan kebijakan yang adaptif dan kolaboratif.
Ia menyebut aliansi Jerman-Indonesia berdiri di atas tiga pilar utama, yaitu kemitraan ekonomi, kolaborasi akademik, dan inisiatif lingkungan hidup.
Namun, kebijakan fiskal dan keamanan ke dalam dari pemerintahan Merz, serta langkah Indonesia memperluas peran di kawasan Indo-Pasifik, menciptakan potensi gesekan jika tidak ditangani secara strategis.
Kerja Sama Ekonomi, Kuat tapi Rentan
Hubungan ekonomi menjadi fondasi utama. Pada 2024, ekspor Indonesia ke Jerman tercatat USD4,79 miliar (sekitar Rp78 triliun), sementara ekspor Jerman ke Indonesia mencapai USD3,12 miliar (sekitar Rp50,9 triliun).
Komoditasnya terdiri dari mesin, kendaraan, produk kimia, dan elektronik.
Perusahaan-perusahaan Jerman seperti Siemens, Bosch, dan BASF telah beroperasi di Indonesia sejak abad ke-19 dan kini terlibat dalam proyek energi dan infrastruktur digital.
Baca Juga: IndoDefense 2025, Kendaraan Tempur Marder 1A3 Jerman Jadi Andalan Pasukan Mekanis TNI AD
Di sisi pendidikan, lebih dari 400 ribu mahasiswa Indonesia telah menempuh studi di universitas-universitas Jerman sejak 2020.
Fakta itu memperkuat kapasitas riset dan ekonomi berbasis pengetahuan di Tanah Air.
Fiskal Ketat Hambat Dukungan Lingkungan
Namun, arah baru Kanselir Merz, yang menekankan penguatan militer dan infrastruktur dalam negeri lewat penghapusan "debt brake" (pembatasan defisit), dikhawatirkan menyedot anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk proyek iklim dan energi terbarukan di Indonesia.
Kebijakan ini berpotensi mengganggu dukungan Jerman terhadap program konservasi hutan hujan dan pembiayaan energi panas bumi di Indonesia.
Mobilitas dan Ketidakpastian Imigrasi
Merz juga disebut Simon mengusung kontrol perbatasan yang lebih ketat dalam kampanyenya, yang berdampak pada keraguan pelajar dan profesional Indonesia untuk datang ke Jerman.
Artikel Terkait
G20 Hasilkan Kerjasama Bilateral Indonesia-Turki, Bangun Jalan Tol Sumatera
Kunjungan Bilateral ke Saudi, Pangeran MBS Sambut Langsung Presiden Jokowi
Hadapi Perubahan Iklim, DKI Tingkatkan Kerja Sama Bilateral dengan Gubernur Tokyo
Presiden Prabowo akan Menerima Kunjungan PM Fiji, Bahas Hubungan Bilateral