• Sabtu, 18 April 2026

Hubungan Bilateral Jerman dan Indonesia Berada di Persimpangan Strategis

Photo Author
Ari DP, Konteks.co.id
- Senin, 7 Juli 2025 | 10:15 WIB
Kanselir Jerman Friedrich Merz (Germany Gov)
Kanselir Jerman Friedrich Merz (Germany Gov)

KONTEKS.CO.ID - Hubungan bilateral antara Jerman dan Indonesia menghadapi momen krusial setelah Friedrich Merz resmi menjabat sebagai Kanselir Jerman pada Mei 2025.

Simon Hutagalung, mantan diplomat Kementerian Luar Negeri RI, menilai kemitraan bersejarah kedua negara sejak 1952 harus diperkuat dengan kebijakan yang adaptif dan kolaboratif.

Ia menyebut aliansi Jerman-Indonesia berdiri di atas tiga pilar utama, yaitu kemitraan ekonomi, kolaborasi akademik, dan inisiatif lingkungan hidup.

Namun, kebijakan fiskal dan keamanan ke dalam dari pemerintahan Merz, serta langkah Indonesia memperluas peran di kawasan Indo-Pasifik, menciptakan potensi gesekan jika tidak ditangani secara strategis.

Baca Juga: Terburuk dalam Sejarah, Jerman Dihantam Gelombang Kebangkrutan: 11.900 Perusahaan Kolaps di Semester I 2025

Kerja Sama Ekonomi, Kuat tapi Rentan

Hubungan ekonomi menjadi fondasi utama. Pada 2024, ekspor Indonesia ke Jerman tercatat USD4,79 miliar (sekitar Rp78 triliun), sementara ekspor Jerman ke Indonesia mencapai USD3,12 miliar (sekitar Rp50,9 triliun).

Komoditasnya terdiri dari mesin, kendaraan, produk kimia, dan elektronik.

Perusahaan-perusahaan Jerman seperti Siemens, Bosch, dan BASF telah beroperasi di Indonesia sejak abad ke-19 dan kini terlibat dalam proyek energi dan infrastruktur digital.

Baca Juga: IndoDefense 2025, Kendaraan Tempur Marder 1A3 Jerman Jadi Andalan Pasukan Mekanis TNI AD

Di sisi pendidikan, lebih dari 400 ribu mahasiswa Indonesia telah menempuh studi di universitas-universitas Jerman sejak 2020.

Fakta itu memperkuat kapasitas riset dan ekonomi berbasis pengetahuan di Tanah Air.

Fiskal Ketat Hambat Dukungan Lingkungan

Namun, arah baru Kanselir Merz, yang menekankan penguatan militer dan infrastruktur dalam negeri lewat penghapusan "debt brake" (pembatasan defisit), dikhawatirkan menyedot anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk proyek iklim dan energi terbarukan di Indonesia.

Kebijakan ini berpotensi mengganggu dukungan Jerman terhadap program konservasi hutan hujan dan pembiayaan energi panas bumi di Indonesia.

Mobilitas dan Ketidakpastian Imigrasi

Merz juga disebut Simon mengusung kontrol perbatasan yang lebih ketat dalam kampanyenya, yang berdampak pada keraguan pelajar dan profesional Indonesia untuk datang ke Jerman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ari DP

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Paus Leo XIV Merespons Serangan Terbaru Trump

Kamis, 16 April 2026 | 09:25 WIB
X