Seruan Perdamaian di Tengah Serangan
Meski telah memerintahkan serangan besar-besaran, Trump tetap membuka pintu diplomasi.
Ia menegaskan bahwa kini adalah saat yang tepat bagi Iran untuk melakukan perundingan damai.
Padahal, hanya 48 jam sebelumnya, Trump menyatakan bahwa ia masih akan menunggu dua minggu untuk melihat kemungkinan jalur diplomatik.
"Saya akan membuat keputusan apakah akan melakukannya dalam dua minggu ke depan atau tidak,” katanya dalam pernyataan Kamis, 19 Juni 2025 lalu.
Latar Belakang Konflik Israel dan Iran
Konflik ini juga tidak bisa dilepaskan dari ketegangan antara Iran dan Israel.
Baca Juga: Kaesang Resmi Daftar Lagi Jadi Ketum PSI, Targetkan Masuk Senayan 2029
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menegaskan akan menghentikan program nuklir Teheran dengan segala cara.
Trump sendiri sebelumnya sempat menekan Netanyahu untuk menunda operasi militer, namun tampaknya upaya itu gagal.
Selama bertahun-tahun, AS dan sekutunya menuding Iran tengah mengembangkan senjata nuklir.
Meski Iran berulang kali membantah, penarikan AS dari perjanjian nuklir 2015 pada masa jabatan pertama Trump membuat situasi kian memburuk.
Baca Juga: Kapal Induk Nuklir USS Nimitz Lewati Perairan Indonesia Tanpa 'Kulonuwun', TNI Kasih Respons Tegas
Kini, dengan serangan militer resmi AS, konflik berpotensi meluas dan menimbulkan ketegangan global baru.
Bukan hanya berdampak pada Timur Tengah, tetapi juga pada pasar energi, keamanan regional, dan stabilitas politik internasional.***
Artikel Terkait
Lama Tersimpan, Rudal Sejjil Iran Kini Diluncurkan Gempur Israel
TNI Siap Evakuasi WNI dari Iran dan Israel, Bentuk Kehadiran Negara di Tengah Konflik
Iran Bantah Serangan ke Rumah Sakit Israel, Tegaskan Hanya Targetkan Markas Militer IDF
Perang Iran-Israel Memanas, TNI Siap Evakuasi 126 WNI yang Terjebak di Wilayah Konflik
Takut Dibunuh Israel, Ayatollah Ali Khamenei Sumbunyi ke Bungker dan Tunjuk Ulama Senior Pengganti