Baca Juga: Potret Agrinas Palma Nusantara, Raksasa Baru Industri Sawit di Indonesia, Modal dari Kebun Sitaan
Beberapa wilayah di Riau masih diselimuti kabut asap tebal, meskipun belum mencapai ibu kota provinsi, Pekanbaru, menurut keterangan Kepala Kepolisian Daerah setempat.
Cuaca kering diperkirakan bertahan hingga akhir pekan, sebelum kemungkinan hujan turun untuk meredakan kondisi kabut.
Helikopter telah dikerahkan untuk patroli udara dan operasi bom air hingga 25 Juli.
Sementara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan wilayah tersebut akan segera memasuki fase panas ekstrem, yang berpotensi memperburuk risiko kebakaran dalam beberapa pekan ke depan.
Baca Juga: Indonesia Minta India Terapkan Kebijakan Impor Minyak Sawit yang Lebih Pasti, ini Alasannya
Para analis memperkirakan bahwa situasi ini, meskipun masih terkendali, dapat berdampak jangka pendek terhadap hasil panen.
Itu jika kebakaran meluas ke wilayah perkebunan atau menyebabkan perlambatan operasional.
“Kenaikan status siaga kebakaran hutan menjadi darurat di Riau, ditambah peringatan musim panas ekstrem, menjadi risiko signifikan bagi sektor sawit Indonesia,” kata Matthew Biggin, analis komoditas di BMI, unit dari Fitch Solutions.
“Juli adalah bulan yang sangat penting karena merupakan puncak musim panen. Gangguan akibat kebakaran atau panas dapat berdampak lebih besar terhadap hasil dan pasokan,” ujarnya.
Baca Juga: Pemerintah Menaikkan Harga Acuan Minyak Kelapa Sawit Mentah Jadi Rp14,2 Juta per Ton
Biggin menambahkan kebakaran dan asap bisa mengganggu kegiatan panen dan logistik, sehingga memperketat pasokan dalam jangka pendek.
Namun, produksi Malaysia yang relatif stabil diperkirakan dapat membantu menyeimbangkan dampaknya di pasar global.
“Meski perkembangan ini memberi batas bawah pada harga minyak sawit, kami belum memperkirakan lonjakan harga yang tajam saat ini,” tambahnya.
“Untuk saat ini, kami mempertahankan proyeksi harga dan produksi. Namun jika kebakaran memburuk, bisa saja ada revisi ke bawah dalam proyeksi produksi.”