“Namun dengan kehadiran AI, maka dialog di dalam demokrasi disapu oleh suara mesin, provokasi buzzer, bots, AI dan mesin-mesih alien, yang masuk ke dalam sistem, menjajah dan menjarah demokrasi secara brutal,” katanya.
Kritik terhadap Produk Pemilu Langsung
Didik bahkan tak segan menyinggung hasil konkret dari pemilihan langsung yang sarat manipulasi tersebut.
“Hasilnya adalah pemimpin pencitraan, yang tidak menampakkan wajah aslinya, seperti terlihat pada kepemimpinan Jokowi, yang dihasilkan dalam pemilihan langsung dengan penuh keterlibatan mesin-mesin manupulatif, buzzer, bots, dan AI. Ini semua merupakan barang asing dan alien-alien baru di dalam demokrasi,” pungkas Didik.
Pernyataan Didik J. Rachbini ini jelas menambah lapisan baru dalam perdebatan pilkada langsung versus tidak langsung.
Bukan sekadar soal mahal atau murah, melainkan soal apakah demokrasi masih dikuasai manusia, atau telah direbut oleh mesin.***
Artikel Terkait
Matius Fakhiri-Rumaropen Resmi Menang Pilkada Gubernur-Wagub Papua, MK Tolak Gugatan
Pakar Hukum Beberkan Cara MK Perluas Kewenangannya Sendiri: Tafsirkan Pilkada Hingga Tolak Pengawasan KY
KPU Rilis Indeks Partisipasi Pilkada, Empat Provinsi Tertinggi, Mana Saja?
Pilkada Via DPRD Dinilai Matikan Suara Publik di Tengah Keramaian Digital
Tegas, Partai Demokrat Tolak Usulan Ketum Golkar Bahlil Kembalikan Pilkada ke DPRD