KONTEKS.CO.ID - Siapa sangka, di balik sejarah panjang hubungan diplomatik Indonesia-Amerika Serikat, pernah ada momen panas yang melibatkan dua pemimpin tertingginya.
Tepatnya 65 tahun silam, Presiden Soekarno pernah dibuat kecewa oleh sikap dingin Presiden AS ke-34, Dwight D. Eisenhower, dalam sebuah kunjungan kenegaraan yang seharusnya menjadi ajang mempererat hubungan kedua negara.
Kunjungan Tanpa Sambutan
Tahun 1960, Soekarno memenuhi undangan resmi dari Presiden AS untuk datang ke Gedung Putih.
Baca Juga: Jelang Final, Jens Raven Pimpin Daftar Top Skor Piala AFF U-23 2025
Semangat silaturahmi dan kerja sama membawanya terbang jauh ke Washington.
Namun, setibanya di bandara, tak ada tanda-tanda penyambutan dari Eisenhower. Bagi kepala negara sekelas Soekarno, perlakuan ini jelas tak lazim.
"Saya bukan tamu biasa yang datang tanpa undangan. Jika ini bentuk sambutan, lebih baik saya pulang saja," ucap Soekarno kepada staf protokol Gedung Putih, seperti ditulis dalam otobiografinya Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Baca Juga: 7 Kode Redeem FF Free Fire Edisi Senin 28 Juli 2025 Tersedia Gratis di Sini, Sedot Secepat Mungkin!
Namun bukan hanya itu. Setiba di Gedung Putih, ia kembali harus menunggu tanpa kejelasan.
Eisenhower tak kunjung muncul, membuat suasana makin dingin dan penuh ketegangan.
Ketika akhirnya Presiden AS muncul beberapa jam kemudian, pertemuan tetap berlangsung tanpa sapaan hangat, apalagi permintaan maaf.
Baca Juga: Sadis, Tukang Ojek Terbujur Kritis Dibacok Tiga Pemuda OTK di Kabupaten Deiyai
Ternyata Karena Satu Sosok Ini
Usut punya usut, sikap dingin Eisenhower tak lepas dari keberadaan salah satu tokoh dalam rombongan Soekarno: Ketua PKI D.N. Aidit.
Keberadaan tokoh komunis di jantung kekuasaan Amerika saat Perang Dingin rupanya dianggap "provokatif".
Artikel Terkait
Seleksi CPNS 2025 Belum Dibuka? Ini Penjelasan Lengkap BKN soal Rekrutmen ASN Tahun Ini
Varian COVID Stratus Diam-Diam Jadi Dominan di Indonesia, Bahayakah? Ini Penjelasan Resmi Kemenkes
Ada Loker Nih! ITS Cari 38 Dosen Tetap Non-PNS, Catat Apa saja Syaratnya di Sini
Peringati Sejarah Kelam Peristiwa 27 Juli 1996, DPP PDIP Tegaskan: Kami Tidak Akan Lupa 'Kudatuli'!
Ribka Tjiptaning Sentil Kader PDIP Tak Tahu Sejarah 28 Juli 1996 alias Kudatuli: Peristiwa yang Memungkinkan Jokowi Jadi Presiden