KONTEKS.CO.ID - Langkah mengejutkan mengamankan kontrak pertahanan besar diambil Boeing, dengan berkomitmen untuk memproduksi 85 persen pesawat tempur canggih F-15EX secara lokal di Indonesia.
Hal itu akan direalisasikan jika Indonesia setuju untuk membeli pesawat tersebut.
Komitmen ini diumumkan Presiden Boeing untuk Asia Tenggara, Penny Burtt, dalam jumpa pers di Jakarta pada awal pekan ini.
Langkah ini menandai penyimpangan signifikan dari pola transaksi senjata tradisional, dan menunjukkan pergeseran tren global di industri pertahanan, ketika transfer teknologi dan manufaktur lokal kini menjadi syarat utama dalam kontrak bernilai miliaran dolar.
Penawaran Boeing bukan sekadar strategi bisnis untuk memikat pemerintah Indonesia, tetapi juga mencerminkan perubahan besar dalam kemitraan pertahanan global.
Dengan kebutuhan mendesak untuk memodernisasi armada udara yang sudah tua, Indonesia dihadapkan pada pertimbangan strategis seputar kedaulatan industri, geopolitik kawasan, dan risiko berbagi teknologi militer mutakhir.
F-15EX, yang dijuluki Eagle II, adalah versi terbaru dari lini legendaris F-15 buatan Boeing.
Pesawat tempur taktis bermesin ganda ini telah menjadi andalan dominasi udara sejak 1970-an.
Varian EX dirancang untuk menggantikan model F-15C/D milik Angkatan Udara AS dan dilengkapi dengan berbagai fitur canggih, termasuk sistem fly-by-wire digital untuk kelincahan maksimal, serta suite peperangan elektronik mutakhir untuk menghadapi ancaman modern.
Arsitektur sistem misi terbuka pada F-15EX memungkinkan integrasi teknologi baru secara cepat, menjadikannya adaptif terhadap lingkungan tempur yang terus berubah.
Pesawat ini memiliki kecepatan maksimum Mach 2,5, jangkauan tempur sekitar 1.200 mil laut, dan mampu membawa hingga 13.400 kg muatan di 23 titik senjata.
Selain itu, tangki bahan bakar konformal memperluas daya jangkau, dan kemampuannya membawa senjata hipersonik menjadikannya penghubung menuju peperangan generasi mendatang.
Tidak seperti jet siluman generasi kelima seperti F-35, F-15EX mengedepankan kekuatan, daya angkut, dan efisiensi biaya—sebuah kombinasi yang menarik bagi negara-negara yang mencari keseimbangan antara kemampuan dan keterjangkauan.
Artikel Terkait
Pemerintahan AS Kecam Boeing, Trump: Seharusnya Kita Bisa Beli Pesawat Lain
Setelah Tesla, Kini Boeing Jadi Korban Perang Dagang Trump