• Sabtu, 18 April 2026

RRC Dominasi Dunia, Kuncinya Perusahaan China Kuasai 75 Persen Pabrik Pengolahan Nikel di Indonesia

Photo Author
Iqbal Marsya, Konteks.co.id
- Jumat, 7 Februari 2025 | 17:48 WIB
Tampak ilustrasi kegiatan tambang nikel di Indonesia yang hampir 100 persen dikuasai perusahaan China.  (agincourtresources)
Tampak ilustrasi kegiatan tambang nikel di Indonesia yang hampir 100 persen dikuasai perusahaan China. (agincourtresources)


KONTEKS.CO.ID - Indonesia dan China bersama-sama kuasai pasar dengan memproduksi 65% nikel olahan dunia pada tahun 2023.

Hal ini menjadi kekhawatiran dunia. Sebab, faktanya Beijing menguasai pasar nikel dunia karena perusahaan China saat ini mengendalikan 75% kapasitas penyulingan nikel di Indonesia.

"Inilah yang menimbulkan kekhawatiran tentang ketahanan rantai pasokan nikel," menurut laporan lembaga nirlaba keamanan global yang berbasis di AS, Center for Advanced Defense Studies (C4ADS).

Baca Juga: Viral Bahlil Diprotes Soal Gas 3 Kg, Warga di Tangerang Ungkap Alasan Berani 'Semprot' Sang Menteri

Kepemilikan oleh perusahaan China berpotensi memengaruhi rantai pasokan global untuk komponen penting yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik (EV), menurut laporan tersebut.

Mengutip laman Mining Technology, Jumat 7 Februari 2025, permintaan global untuk nikel diperkirakan akan melonjak dari sekitar 3 juta ton (mt) pada 2023 menjadi antara 5 mt dan 6 mt pada 2040, terutama karena perluasan teknologi energi bersih.

Sementara pada 2023, Indonesia dan China secara bersama-sama memproduksi 65% nikel olahan dunia.

Baca Juga: Retret Pelatnas PBSI, Pesan Fadil Imran Bakar Semangat Pelatih, Atlet, dan Pengurus untuk Berlaga demi Negara

Dari tahun 2020 hingga 2023, pangsa pasar nikel olahan dunia milik Indonesia meningkat dari 23% menjadi 27%. Terutama sebagai akibat dari larangan ekspor nikel mentah yang diterapkan pada 2014 dan 2020.

Namun, sebagian besar kapasitas ini dimiliki asing, dengan 33 perusahaan memegang kapasitas penyulingan 8 juta ton di Indonesia.

Penelusuran tumpang tindih pemegang saham mengungkapkan bahwa perusahaan China mengendalikan sekitar tiga perempat dari kapasitas peleburan ini pada 2023.

Baca Juga: Atletnya Banjir Prestasi, PB Djarum Guyur Bonus Ratusan Juta

Laporan tersebut menemukan bahwa Tsingshan Holding Group dan Jiangsu Delong Nickel Industry, dua perusahaan Beijing, menguasai lebih dari 70% kapasitas penyulingan Indonesia di tahun tersebut. Konsentrasi kepemilikan ini menimbulkan kekhawatiran tentang dominasi industri.

Selain itu, pada tahun 2030, Indonesia diproyeksikan akan menguasai 44% dari produksi nikel olahan global.

“Karena Indonesia bertujuan untuk menggunakan industri nikel untuk pertumbuhan ekonomi, pengaruh asing yang substansial ini dapat membatasi kemampuannya untuk mengendalikan dan membentuk industri demi keuntungannya sendiri,” tambah laporan tersebut.

Baca Juga: Pemprov Jateng Larang ASN Gunakan Gas 3 Kg, Ancam Beri Sanksi Tegas Jika Bandel

Dominasi perusahaan China di sektor ini menempatkan produsen mobil AS dan Eropa pada posisi yang kurang menguntungkan dalam persaingan di pasar kendaraan listrik global. "Khususnya di tengah kebijakan perdagangan yang semakin ketat dengan China," kata laporan itu.

Dalam upaya untuk membuat nikel Indonesia lebih mudah diakses oleh pasar AS, perusahaan China telah mendekati perusahaan Indonesia dan Korea Selatan untuk kemitraan potensial guna mengurangi saham mereka di pabrik peleburan, lapor Reuters.

Tsingshan telah mulai menjual saham di beberapa pabrik peleburannya, termasuk 30% saham PT Jiu Long Metal Industry kepada perusahaan tambang BUMN Indonesia, Aneka Tambang pada bulan Oktober.

Baca Juga: Polda Jateng Ungkap Penyalahgunaan Gas 3 Kg di Purworejo, Begini Modusnya untuk Dapatkan Cuan

Menteri Pertambangan Indonesia Bahlil Lahadalia menyatakan pada bulan lalu bahwa Presiden Prabowo Subianto telah membentuk gugus tugas untuk mengembangkan industri mineral hilir melalui pembiayaan dalam negeri. "Ini bertujuan untuk secara bertahap mengurangi persepsi bahwa orang asing mendapat manfaat paling banyak," menurut Reuters. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Iqbal Marsya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X