• Sabtu, 18 April 2026

Harga Beras Turun di Semua Segmen, Tanda Positif Stabilitas Pangan dan Daya Beli Rakyat

Photo Author
Lopi Kasim, Konteks.co.id
- Selasa, 4 November 2025 | 12:22 WIB
Presiden Prabowo Subianto menghadiri kegiatan Panen Raya Nasional yang dipusatkan di Desa Randegan Wetan, Kecamatan Jati 7, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, pada Senin, 7 April 2025 (Foto: BPMI Setpres)
Presiden Prabowo Subianto menghadiri kegiatan Panen Raya Nasional yang dipusatkan di Desa Randegan Wetan, Kecamatan Jati 7, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, pada Senin, 7 April 2025 (Foto: BPMI Setpres)

Sementara dibandingkan dengan Oktober 2024 harga beras di tingkat eceran masih berada di sekitar Rp14.643 per kilogram dengan inflasi tahunan mencapai 3,08 persen.

Lalu, harga grosir berada di kisaran Rp13.563 per kilogram dan harga penggilingan sekitar Rp12.724 per kilogram. Dengan kondisi tersebut, pasar beras pada 2024 masih berada dalam tekanan.

Namun pada Oktober 2025 terjadi perubahan total dimana harga turun di semua level secara bersamaan.

Tak hanya beras, komoditas pangan lain seperti bawang merah, cabai rawit, dan tomat juga turut menekan inflasi.

Baca Juga: Teuku Faisal Fathani Resmi Gantikan Dwikorita Karnawati Jadi Kepala BMKG

Namun, kontribusi beras tetap yang paling menentukan mengingat bobotnya yang besar dalam pengeluaran rumah tangga.

Deflasi beras dua bulan beruntun pun menjadi salah satu indikator paling penting dalam menjaga daya beli masyarakat.

Menteri Pertanian yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama lintas sektor.

"Tujuan kita menurunkan harga supaya masyarakat bahagia, dan itu sudah tercapai," katanya.

Amran pun memimpin langsung pembentukan tim pengawal harga yang terdiri dari Kementan, Bapanas, Bulog, serta aparat penegak hukum.

Baca Juga: Wagub Rano Karno Buka Wacana Pembentukan Sistem Keamanan seperti Pecalang di Jakarta

Tugas tim tersebut, memastikan stabilitas harga sampai tingkat kabupaten, termasuk menjalankan operasi pasar dan distribusi beras SPHP ke daerah-daerah pegunungan yang bukan sentra produksi.

Jika dibandingkan dengan Oktober 2024, penurunan harga beras pada Oktober 2025 mencerminkan perubahan struktural yang kuat yakni, pasar lebih terkendali, pasokan lebih stabil, dan dampak kebijakan lebih cepat terasa.

Amran menyebut, keberhasilan ini adalah kerja kolektif seluruh elemen bangsa, dari Presiden dan petani, hingga media yang terus mengawal dinamika pangan nasional.

Dia menyebut, turunnya harga beras di semua segmen dan deflasi yang terjadi dua bulan berturut-turut, Indonesia menutup Oktober 2025 dengan tanda positif bagi stabilitas pangan dan daya beli rakyat.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lopi Kasim

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X