Dalam proses negosiasi, Indonesia juga menawarkan investasi besar di AS.
RI siap membeli minyak mentah, LPG, pesawat, hingga produk pertanian dari Negeri Paman Sam.
Menurut penilaian Airlangga, kemajuan negosiasi dengan AS serta langkah Indonesia dalam perundingan perdagangan bebas dengan Uni Eropa akan memperkuat kepercayaan investor global.
Baca Juga: Siap Tempur di Pasar Ponsel Harga 1 Jutaan, yuk Bongkar Fitur Menggoda Samsung Galaxy A07
"Mereka membawa persepsi optimis dari pasar global karena sebagian besar investor mencari kepastian, dan Indonesia adalah salah satu negara yang memberikan kepastian global,” ujarnya.
Diketahui, pemerintah menargetkan kesepakatan ini bisa membantu mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2026.
Terpisah, menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso pernah menyampaikan target agar negosiasi tarif dengan AS selesai sebelum 1 September 2025.
Baca Juga: Polemik Produk Arc'teryx, Toko di Bali dan Jakarta Disebut Tak Punya Garansi Resmi Pemegang Merek
"Mudah-mudahan sebelum 1 September sudah selesai,” kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, pada Senin, 4 Agustus 2025 lalu.
Dikatakan Budi, pemerintah fokus untuk mendorong pengurangan tarif terhadap komoditas yang tidak diproduksi oleh AS.
Dia juga menegaskan meski dikenakan tarif 19 persen, posisi Indonesia masih lebih kompetitif dibandingkan negara lain.
“Kalau kita lihat, tarif resiprokal 19 persen itu cukup bagus di kawasan Asean. Bahkan lebih kecil dari beberapa negara seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand,” tandasnya.***
Artikel Terkait
Kabar Terbaru Kebijakan Tarif Dagang Donald Trump: Suku Cadang Mobil hingga Furnitur Kini Kena Dampak
Gara-Gara Tarif Impor, Harga Kopi di AS Tembus Rp300 Ribu per Kilogram
Edan! Noel Cs Peras Buruh untuk Sertifikasi K3, Tarif Resmi Rp275 Ribu Diminta Rp6 Juta
Piyu: Formula Tarif Royalti Aksi Sangat 'Fair' Bagi Penyanyi dan Pencipta Lagu
Menko Airlangga Sebut AS Setuju Beri Pengecualian Tarif untuk Sawit, Kakao, dan Karet, Ini Pernyataannya