Mata uang kuat seperti won Korea dan baht Thailand pun goyah.
Dari seluruh daftar, hanya yen Jepang yang selamat dengan kenaikan tipis 0,2%.
Sedangkan dong Vietnam dan riel Kamboja mencatat depresiasi paling minim.
Baca Juga: Ingin Ikut Upacara di Istana? Simak Syarat dan Alur Pendaftarannya Berikut Ini!
Penyebab Utama: Dolar AS Naik Daun
Kenaikan indeks dolar AS (DXY) menjadi biang kerok utama.
Selama sepekan, DXY melonjak 1,53%, mendorong permintaan global terhadap greenback.
Lonjakan ini dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa ekonomi AS masih tahan banting dan kebijakan suku bunga bakal tetap ketat.
Baca Juga: Debut Justin Hubner Tak Berjalan Manis, Fortuna Sittard Kalah 1-2 dari Bayer Leverkusen
Namun plot twist muncul di akhir pekan.
DXY justru longsor 0,83% setelah data tenaga kerja AS mengecewakan.
"Jumlah tenaga kerja yang bertambah hanya 73.000 selama Juli. Padahal pasar berekspektasi 110.000," ungkap analis pasar valas FX Insight, Damar Halim.
Lebih mengejutkan lagi, data Juni direvisi dari 147.000 menjadi 14.000. Sementara angka pengangguran justru naik jadi 4,2% dari sebelumnya 4,1%.
Baca Juga: Kriminalisasi Tom Lembong Berdampak pada Ekonomi Nasional
Ini jadi pukulan telak bagi narasi optimisme pemulihan ekonomi Amerika.
Apa Implikasinya untuk Indonesia?
Anjloknya rupiah bukan sekadar angka. Ini menyentuh banyak sektor dari biaya impor energi dan pangan yang naik, hingga potensi inflasi yang membayangi kebutuhan pokok.
Artikel Terkait
Didik Rachbini: Tak Ada UU Rekening Dormant 3 Bulan Harus Diblokir
kebijakan Blokir Rekening Dormant, Ekonom Nilai Ketua PPATK Layak Diganti
Pengelolaan Danantara Belum Transparan, Direktur CELIOS Rekomendasikan Pemerintah Copas SWF Norwegia alias Norfund
Harga Emas Antam Hari Ini 2 Agustus 2025: 1 Gram Tembus Rp1,94 Juta, Cek Daftar Lengkapnya
Kriminalisasi Tom Lembong Berdampak pada Ekonomi Nasional