KONTEKS.CO.ID - Di tengah jeda konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS), manuver diplomatik kembali bergerak.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, melakukan komunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, guna membahas perkembangan terbaru konflik.
Kontak ini terjadi saat kedua pihak tengah menjalani masa gencatan senjata selama dua pekan.
Pembicaraan Dilakukan via Telepon
Menurut sumber diplomatik Turki, komunikasi antara kedua menteri dilakukan melalui sambungan telepon.
Baca Juga: China Naik Pitam AS Blokade Pelabuhan Iran: Bahayakan Keselamatan Pelayaran!
Fokus pembahasan adalah perkembangan negosiasi antara Iran dan AS yang hingga kini masih belum menemukan titik terang.
Langkah ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi tetap diupayakan, meskipun situasi di lapangan masih belum stabil.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Di balik upaya diplomasi, dampak konflik masih terasa besar. Otoritas Iran melaporkan lebih dari 3.300 orang tewas akibat serangan udara gabungan AS-Israel yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Jumlah korban tersebut menggambarkan eskalasi konflik yang serius sebelum akhirnya kedua pihak menyepakati jeda sementara.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Teheran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone.
Targetnya tidak hanya Israel, tetapi juga sejumlah wilayah lain seperti Irak, Yordania, serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer Amerika Serikat.
Serangan ini memperluas dampak konflik ke kawasan yang lebih luas, meningkatkan kekhawatiran akan perang regional.
Perundingan Gagal Capai Kesepakatan
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui pertemuan langsung antara AS dan Iran di Islamabad pada akhir pekan lalu.
Pertemuan tersebut tergolong langka mengingat hubungan kedua negara yang tegang.
Baca Juga: Keterlaluan! Klaim Militer Iran Sudah Hancur Lebur, Trump Malah Bawa-bawa Nama 'Allah'
Namun, pembicaraan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan apa pun, sehingga masa depan gencatan senjata masih dipenuhi ketidakpastian.
Peran Turki dalam komunikasi ini menunjukkan upaya negara tersebut untuk menjadi penyeimbang di tengah konflik.
Sebagai negara dengan posisi strategis, Ankara berupaya menjaga stabilitas kawasan melalui jalur diplomasi.
Namun, tanpa kesepakatan konkret antara pihak yang berkonflik, risiko eskalasi tetap terbuka.***
Artikel Terkait
Geram Dikritik Paus Leo XIV soal Perang Iran, Trump Malah Bawa-bawa Nama Barack Obama
Sejumlah Menteri Israel Beri Sinyal Zionis Segera Serang Iran Lagi
Keterlaluan! Klaim Militer Iran Sudah Hancur Lebur, Trump Malah Bawa-bawa Nama 'Allah'
Blokade AS terhadap Pelabuhan Iran Dinilai sebagai Aksi Balas Dendam Tak Bertanggung Jawab
China Naik Pitam AS Blokade Pelabuhan Iran: Bahayakan Keselamatan Pelayaran!