KONTEKS.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menjadi pusat perhatian setelah mengeluarkan pernyataan kontroversial cenderung mengejek di tengah memanasnya konflik dengan Iran.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menggunakan frasa religius 'puji syukur kepada Allah' saat membahas situasi militer Iran, sebuah diksi yang langsung memicu perdebatan publik terutama di kalangan umat muslim.
Klaim Militer Iran Hancur Lebur
Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa kekuatan militer Iran mengalami kerusakan signifikan akibat konflik yang berlangsung. Ia menyebut sejumlah komponen penting pertahanan Iran telah lumpuh.
Baca Juga: Sejumlah Menteri Israel Beri Sinyal Zionis Segera Serang Iran Lagi
Menurutnya, Angkatan Laut dan Angkatan Udara Iran mengalami kehancuran besar, termasuk sistem pertahanan udara, radar, serta fasilitas produksi rudal dan drone.
“Yang terpenting, para pemimpin mereka yang telah lama berkuasa kini telah tiada, puji syukur kepada Allah!” tulis Trump, dikutip pada Selasa, 14 April 2026.
Penggunaan Nama 'Allah' Jadi Sorotan
Ini bukan kali pertama Trump menggunakan istilah tersebut dalam konteks konflik dengan Iran.
Sebelumnya, ia juga menyebut 'Allah' ketika menekan Iran terkait akses di Selat Hormuz.
Dalam tekanan tersebut, Trump bahkan menyertakan ancaman keras, termasuk kemungkinan penghancuran infrastruktur strategis Iran apabila tuntutan Washington tidak dipenuhi.
Ancaman Ekstrem hingga Kritik Sekutu
Retorika Trump tidak berhenti pada klaim militer. Ia juga melontarkan ancaman ekstrem terhadap Iran, dengan menyebut kemungkinan tindakan yang dapat menghapus peradaban negara tersebut jika tidak mengikuti keinginan AS.
Selain itu, Trump turut menyindir negara-negara sekutu yang selama ini bergantung pada peran Washington dalam menjaga stabilitas kawasan, khususnya terkait keamanan jalur energi global.
“Sungguh luar biasa, mereka tidak memiliki keberanian atau kemauan untuk melakukan pekerjaan ini sendiri,” ujarnya.
Negara-negara yang disinggung mencakup kekuatan besar seperti China, Jepang, Korea Selatan, Prancis, hingga Jerman.
Baca Juga: Iran dan AS Gagal Capai Kata Sepakat, Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 Per Barel
Diplomasi Berjalan di Tengah Retorika Keras
Pernyataan keras Trump muncul di tengah proses diplomasi antara AS dan Iran yang baru saja berakhir tanpa kesepakatan.
Pembicaraan damai digelar di Islamabad, menghadirkan perwakilan tingkat tinggi dari kedua negara.
Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh JD Vance, sementara Iran diwakili oleh Mohammad Bagher Ghalibaf dan Seyed Abbas Araghchi.
Situasi ini menunjukkan kontras tajam antara jalur diplomasi yang sedang diupayakan dengan pernyataan publik yang cenderung konfrontatif.***
Artikel Terkait
Korea Utara Pamer Senjata Canggih Terbaru di Tengah Gencatan Iran-AS, Langsung Bikin Dunia Ketar-ketir
Pernyataan Trump Direspons Iran, Bakal Hancurkan Kapal Perang yang Dekati Selat Hormuz
Iran dan AS Gagal Capai Kata Sepakat, Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 Per Barel
Geram Dikritik Paus Leo XIV soal Perang Iran, Trump Malah Bawa-bawa Nama Barack Obama
Sejumlah Menteri Israel Beri Sinyal Zionis Segera Serang Iran Lagi