KONTEKS.CO.ID - Serangan terhadap perangkat lunak Axios disebut sebagai bagian dari kampanye jangka panjang peretas Korea Utara.
Hal itu untuk mencuri cryptocurrency dan mendanai program nuklir serta rudal negara tersebut.
Para ahli yang menangani insiden ini mengatakan motifnya sangat jelas: mengumpulkan dana melalui serangan digital berprofil tinggi.
Baca Juga: Dugaan Bupati Karo Beri Mobil, Kajari Danke Rajagukguk Hanya Senyum
“Kami melihat pola yang konsisten, akses dicuri dari software, lalu digunakan untuk serangan pencurian aset crypto,” kata seorang pakar yang membantu investigasi kepada CNN.
Peneliti Huntress, John Hammond, mengungkap sejauh ini setidaknya 135 perangkat di 12 perusahaan telah teridentifikasi terinfeksi.
Jumlah ini diyakini hanya sebagian kecil dari total korban.
Baca Juga: Diplomasi Maritim Dorong Produk UMKM Tembus Pasar Global
Serangan ini menambah daftar panjang operasi siber agresif Korea Utara.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pyongyang disebut telah mencuri miliaran dolar dari bank dan perusahaan kripto.
Pada 2023, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan sekitar setengah dari program rudal Korea Utara dibiayai dari hasil peretasan digital.
Baca Juga: Libur Panjang Akhir Pekan, Contraflow Diterapkan di Tol Jakarta-Cikampek
“Korea Utara tidak khawatir mengenai reputasinya atau akan teridentifikasi,” ujar Ben Read, Direktur Intelijen Ancaman Strategis di Wiz.
“Operasi besar seperti ini memang bising dan mudah terdeteksi, tapi itu adalah harga yang siap mereka bayar.”
Artikel Terkait
Putri Kim Jong Un Naik Tank dalam Latihan Miiter, Sinyal Kuat Suksesi Kekuasaan Korea Utara?
Kim Jong Un Resmi Diangkat Kembali Jadi Presiden Urusan Negara Korea Utara
Kim Jong Un Jadi Presiden Korea Utara, 99,99 Persen Pemilih Mendukung
Gelombang Baru Serangan Mematikan ‘True Promise 4’ Iran: IRGC Kirim Rudal Qiam, Emad, dan Qadr ke Israel Tengah