KONTEKS.CO.ID – Iran menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat terkait jalur pelayaran vital tersebut.
Menlu Iran, Abbas Araghchi, menyebut keraguan kapal-kapal untuk melintas bukan disebabkan oleh kebijakan Teheran.
Keraguan justru muncul karena kekhawatiran perusahaan asuransi terhadap konflik yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Malaysia Menguasai Pasar Mobil Asia Tenggara, Muncul Tanda Tanya Besar untuk Indonesia
“Selat Hormuz tidak ditutup. Kapal-kapal ragu karena perusahaan asuransi takut pada perang yang Anda mulai, bukan Iran,” tulisnya melalui platform X.
Ia juga menegaskan tekanan tambahan tidak akan memengaruhi sikap Iran maupun pelaku industri pelayaran.
“Tidak ada perusahaan asuransi dan tidak ada rakyat Iran yang akan terpengaruh oleh ancaman lebih lanjut. Cobalah menghormati,” ujarnya.
Baca Juga: Malaysia Salip Indonesia, Jadi Raja Baru Pasar Mobil Asia Tenggara
Asuransi dalam konteks ini adalah industri asuransi pelayaran internasional yang mencakup perlindungan kapal, kargo, serta tanggung jawab hukum selama pelayaran.
Dalam kondisi normal, kapal yang melintas di jalur strategis seperti Selat Hormuz wajib memiliki perlindungan seperti kerusakan kapal dan pelindungan.
Namun dalam situasi konflik, aspek yang paling krusial adalah war risk insurance atau asuransi risiko perang.
Baca Juga: Survei Global, 57 Persen Pria Muda atau Gen Z Merasa Jadi Korban Kesetaraan Gender
Ketika kawasan dinilai berbahaya akibat ancaman militer, premi asuransi bisa melonjak tajam bahkan tidak diberikan sama sekali.
Akibatnya, banyak kapal memilih menunda pelayaran karena tanpa perlindungan asuransi.
Artikel Terkait
Eropa Tarik Rem, Jerman-Inggris Kompak Tolak Ajakan Trump Ikut Operasi Militer di Selat Hormuz
PBB Masih Pusing Cari Solusi Blokade Selat Hormuz
Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz dalam Tempo 48 Jam, Komando Khatam Al Anbiya Balik Mengancam
Di Balik Tawaran Kapal Perang Siluman, Jepang Disebut Berupaya Tahan Pengaruh China terhadap Indonesia