KONTEKS.CO.ID - Sebagai Wakil Presiden petahana dan putra mantan Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka secara teori memiliki modal politik yang signifikan untuk kontestasi 2029.
Namun, analis politik Selamat Ginting justru memiliki pandangan yang sangat pesimistis dan menyebut Gibran saat ini menjadi "beban politik besar" bagi Presiden Prabowo Subianto.
Menurut analisis Ginting, penilaian ini didasarkan pada beberapa faktor krusial.
Baca Juga: Berantas Rokok Ilegal, Menkeu Purbaya Razia Besar-besaran Marketplace hingga Warung Kecil
Pertama, ia menyoroti kinerja Gibran sebagai wakil presiden yang dinilai sangat lemah dan tidak mampu menjadi back-up yang solid bagi Presiden.
Akibatnya, Prabowo terkesan harus bekerja sendirian dalam menangani urusan dalam dan luar negeri yang kompleks.
"Dia seperti dibiarkan aktif sendirian, tidak di-backup oleh wapresnya yang sangat lemah," ujar Ginting dalam video yang diunggah di kanal Youtube Forum Keadilan TV pada Senin, 22 September 2025.
Kedua, Gibran masih terus dibayangi oleh kontroversi legal-etis yang belum terselesaikan, seperti Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90 dan keraguan publik terhadap keabsahan ijazah SMA-nya.
Ketiga, Ginting juga menyoroti minimnya rekam jejak Gibran di level nasional, di mana pengalamannya sebagai Walikota Solo dianggap belum cukup mumpuni untuk skala negara.
"Walikota Solo itu kan hanya selebih luas Jakarta Timur pula kan," sindirnya.
Baca Juga: Erros Djarot: Bukan Diminta Tontonkan Kemaluan, Apa Susahnya Jokowi Tunjukkan Ijazah
Kombinasi dari kinerja yang lemah dan beban kontroversi ini membuat Ginting sangat yakin bahwa Presiden Prabowo akan bersikap realistis dan tidak akan menggandengnya lagi untuk periode kedua.
Dengan prediksi memudarnya "Jokowi efek" pada 2029, Ginting bahkan meramalkan nasib politik Gibran akan berakhir tragis jika ditinggalkan oleh Prabowo.