Proses penambangan dan hilirisasi kerap melibatkan pembabatan hutan, pencemaran air dan udara, serta penggunaan energi dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara.
Menurut Greenpeace, alih-alih mendorong transisi energi berkelanjutan, industri nikel justru menciptakan ironi.
Di satu sisi, ia menjanjikan ekonomi hijau.
Namun di sisi lain, ia merusak lingkungan dan memicu konflik sosial di wilayah-wilayah yang sebelumnya tenang dan harmonis.***