KONTEKS.CO.ID - Kenaikan tajam biaya produksi akibat krisis bahan baku memicu kekhawatiran akan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta ancaman stagflasi di Indonesia.
Meski demikian, Asosiasi Pengusaha Indonesia meminta perusahaan untuk tidak terburu-buru melakukan PHK.
Dunia usaha disebut masih berupaya menahan tekanan biaya melalui efisiensi dan peningkatan produktivitas.
“Kami berharap kondisi sulit ini tidak mendorong kami menaikkan harga,” kata Bob Azam, pengurus teras Apindo.
Namun, risiko yang lebih besar justru datang dari potensi stagflasi atau situasi ketika harga naik tetapi daya beli masyarakat melemah.
“Kalau harga naik tapi daya beli turun, itu jauh lebih buruk,” ujarnya.
Baca Juga: Asosiasi Pengusaha Ungkap Produksi Bisa Secepatnya Goyah
Kekhawatiran serupa juga disampaikan anggota Komisi IX DPR, Edy Wuryanto.
Ia menilai lonjakan biaya bahan baku dapat berujung pada PHK, terutama di sektor yang bergantung pada impor.
“Biaya produksi naik tajam. Ini bisa memicu PHK jika gangguan pasokan terus berlanjut,” katanya.
Baca Juga: Pengawasan Haji 2026 Diperkuat, Inspektorat Tekankan Soliditas Petugas di Tanah Suci
Ia menambahkan, beberapa bahan baku plastik bahkan kini hingga 50 persen lebih sulit diperoleh.
Sebagai respons, DPR tengah berkoordinasi dengan pemerintah dan Apindo untuk mengkaji dampak krisis terhadap sektor industri dan tenaga kerja.
Artikel Terkait
Purbaya Siapkan Meja Pengaduan untuk Pengusaha, Apindo Harap Jadi Solusi Konkret Masalah Investasi
Pengusaha Respons UMP 2026 di DKI Jakarta, Apindo Singgung Angka Pengangguran yang Tinggi
Asosiasi Khawatir PHK Massal, Produsen Tolak Rencana Pemangkasan Produksi Batu Bara
Ancaman Stagflasi Menguat, Analis Mengingatkan Risiko