• Sabtu, 18 April 2026

Ironi Calon Astronaut Indonesia Pratiwi Sudarmono: Dijegal Pesawat Challenger Meledak, Ditarik Pulang Habibie Setelah Latihan Belasan Tahun di NASA!

Photo Author
Iqbal Marsya, Konteks.co.id
- Rabu, 15 April 2026 | 14:15 WIB
Astronot Indonesia, Pratiwi Sudarmono, mengenakan seragam NASA dan membawa miniatur pesawat ulang-alik Challenger saat masih menjalani pelatihan di Florida, AS.  (Foto: NASA)
Astronot Indonesia, Pratiwi Sudarmono, mengenakan seragam NASA dan membawa miniatur pesawat ulang-alik Challenger saat masih menjalani pelatihan di Florida, AS. (Foto: NASA)

KONTEKS.CO.ID – Dunia antariksa memasuki era baru setelah pesawat ruang angkasa Orion berhasil membawa 4 astronot Artemis II NASA (National Aeronautics and Space Administration) mengelilingi Bulan.

Memakan waktu perjalanan selama 10 hari, mereka berhasil mendarat mulus di laut lepas pantai San Diego, AS, saat kembali ke Bumi pada 10 April 2026.

Sebelumnya, personel misi ke Bulan oleh Apollo 11 -- yang bertolak 16 Juli 1969, terdiri atas astronaut Neil Amstrong, Michael Collins, dan Edwin ‘Buzz’ Aldrin. Semuanya adalah warga Amerika Serikat bergender pria kulit putih.

Baca Juga: Dua Operasi, Beda Zaman, Satu Pola: Jejak Gelap AS dan Israel, dari Susannah hingga Epic Fury

Misi Artemis II sungguh berbeda, banyak serbapertama. Di mana untuk pertama kalinya misi ke Bulan melibat astronaut perempuan, kulit berwarna, dan selain warga Amerika.

Mereka adalah astronaut NASA Reid Weisman, komandan; Victor Glover, pilot; Christina Koch, spesialis misi; dan astronaut Kanada Jeremy Hansen, spesialis misi.

Berbicara astronaut serbapertama, ternyata Indonesia hampir mempunyai astronaut perempuan yang mengangkasa bersama pesawat canggih NASA. Namanya Pratiwi Pujilestari Sudarmono.

Pratiwi Sudarmono mendapat pelatihan dari kru NASA terkait operasional pesawat ulang-alik Challenger. (Foto: NASA)

Baca Juga: Kisah Marshall Green, Diplomat 'Spesialis Kudeta' yang Terperangkap Labirin Klenik Soekarno

Peluncuran Satelit Palapa B3 dan Tawaran NASA

Rencana penerbangan warga negara Indonesia ke luar angkasa berawal dari misi Presiden Soeharto merilis Palapa B-3 dengan bantuan Badan Antariksa Amerika Serikat alias NASA.

Pada Juli 1985, tim dari NASA menyambangi Jakarta guna berdiskusi sekaligus mengawasi proses seleksi payload specialist Indonesia yang bakal dilibatkan dalam misi penjelajahan ke luar angkasa.

Payload specialist adalah pakar yang dipilih dan dilatih oleh organisasi komersial atau riset guna menangani muatan spesifik dalam misi luar angkasa.

Baca Juga: Sejarah BAIS TNI, Intelijen 'Angker' dalam Sunyi yang Didirikan Raja Intel Benny Moerdani

Tugasnya bereksperimen atau menggelar penelitian kedirgantaraan, menjalankan peralatan laboratorium luar angkasa, dan mengelola operasi harian stasiun luar angkasa bersama astronaut lainnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jimmy Radjah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X