“Jadi itulah kemudian mikrobiologi itu bisa dibawa menjadi salah satu dari Inspex dan sesudah itu baru ditawarkan kepada saya apakah mau menjalankan penelitian itu sendiri,” papar mantan Dekan FK UI itu.
Sementara pemerintah juga berpikir program ini kalau dijalankan siapa yang mau menjalankannya. “Maka masuklah saya. Didaftarkan waktu itu 207 orang kira-kira, saya nomor terakhir ya, dan mulai proses seleksinya,” imbuhnya.
Kemudian terpilihlah empat orang kandidat terbaik. Rinciannya, Pratiwi berada di urutan pertama, lalu Taufik Akbar dari ITB yang kemudian berstatus astronaut cadangan.
Baca Juga: Dari Meja Negara ke Es Lilin: Jejak Sunyi Jaksa Agung Kasman Singodimedjo
Dua orang lainnya adalah kapten pilot dari Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, MK Yusuf, dan wartawan majalah mingguan Tempo, Bambang Harymurti.
Teliti Hidup Koloni Manusia di Luar Angkasa
Pratiwi pun berstatus sebagai Payload Specialist yang akan melakukan penelitian Indonesian Space Experiment. Penelitiannya lebih kepada eksperimen mendukung kehidupan manusia di luar angkasa.
Pertama, Pratiwi meneliti bentuk sel darah merah pada kondisi tanpa bobot. Kedua, memantau flora mikrobia, dan ketiga meneliti pengembangan awal pertumbuhan sel binatang serta tumbuhan di angkasa.
Baca Juga: Rahasia Greenland, dari Branding Erik The Red Hingga Logika Transaksional Trump
Contohnya, bagaimana toge bisa tumbuh di angkasa dalam kondisi ruangan tanpa bobot. “Jadi supaya bertahan hidup (di ruang angkasa) apa saja yang diperlukan (manusia),” sebutnya.
Ibu satu putra ini menambahkan, di kala itu misi utamanya adalah adanya cita-cita membuat koloni di luar angkasa. “Ada suatu tempat di mana kita bisa tinggal, bisa hidup,” imbuhnya.
Terkait latihan bersama NASA, Pratiwi menyampaikan, latihan penuh dilakukan sekitar dua tahun demi mendapatkan sertifikat.
Mengenai materi latihannya bermacam-macam. “Ya latihannya itu ya paralel sih, seluruhnya terdiri dari pengetahuan, teori-teori mengenai kedirgantaraan, orientasi kepada banyak sekali peralatan dan kemudian yang penting adalah mengoperasikan alat-alat penelitian,” tuturnya.
Dari semua itu, Pratiwi mengungkapkan baha latihan yang tersulitnya adalah bagaimana melangsungkan penelitian-penelitian, karena sarana-prasarananya kecil-kecil. Sementara badan melayang-layang sehingga menjadi tantangan tersendiri.
Artikel Terkait
Artemis II NASA: Pesawat Luar Angkasa Orian Sukses Bertolak ke Bulan, Bawa 4 Astronot dalam Perjalanan 10 Hari
Baru Beberapa Jam Terbang Menuju Bulan, Astronot Lapor ke Bumi: Toilet Pesawat Ruang Angkasa Artemis II NASA Bermasalah!
Astronot Artemis II NASA Bagikan Foto Bagian Bulan yang Belum Pernah Diamati oleh Mata Manusia Sebelumnya
Pulang Menuju Bumi: Bagian Tersulit Misi Bulan Artemis II NASA Masih Hantui Astronot, Terbakar di Atmosfer Bersuhu 2.760 Derajat Celsius
Diprediksi Terbakar di Atmosfer, Pesawat Ruang Angkasa Orion Bawa 4 Astronot Artemis II NASA Mendarat Mulus di Laut!