Pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketidakpastian meningkat menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump, kepada Iran terkait pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia justru menunjukkan penguatan.
Yen Jepang menguat 0,08 persen, baht Thailand naik 0,21 persen, dan yuan China menguat 0,33 persen. Sementara peso Filipina melemah 0,46 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,77 persen.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah di Level Terendah dan Lampui Krisis 1998, Ini Respons Menko Airlangga
Mata uang lain seperti dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga mencatatkan penguatan masing-masing sekitar 0,10 persen pada penutupan perdagangan.
Sementara mata uang utama negara maju turut bergerak di zona hijau, dengan euro menguat 0,23 persen, poundsterling Inggris naik 0,03 persen, serta franc Swiss menguat 0,18 persen.
Dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing menguat 0,12 persen dan 0,18 persen.***
Artikel Terkait
Ekonomi RI Aman! Menkeu Purbaya Spill Cadangan Kas Negara Rp420 Triliun. APBN Masih Punya Bantalan Kuat!
Menkeu Purbaya Ungkap Defisit APBN Capai Rp240,1 Triliun Per Maret 2026
Kuartal I 2026, Pendapatan dan Pengeluaran Pemerintah Sangat Timpang Bikin Defisit APBN 'Ngeri-ngeri Sedap!'
Rupiah Tembus Rp17.105 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah
Nilai Tukar Rupiah Melemah di Level Terendah dan Lampui Krisis 1998, Ini Respons Menko Airlangga