KONTEKS.CO.ID - Rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada Kamis, 18 September 2025, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp16.527 per dolar, melemah 0,55% atau setara 90 basis poin secara harian.
Kondisi ini menjadi penutupan terlemah sejak pertengahan Mei 2025.
Rupiah Tertekan Efek Sinyal The Fed
Pelemahan rupiah tidak terjadi sendiri.
Penguatan dolar pasca hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) membuat mayoritas mata uang Asia ikut tertekan.
Ahli Pasar Berkembang Wells Fargo Securities, Brendan McKenna, menyebut sinyal dari Ketua The Fed menunjukkan bahwa pemangkasan bunga lanjutan akan lebih berat dari perkiraan.
Hal ini memicu tekanan berantai, terutama pada rupiah, won Korea, dan peso Filipina.
“Mengingat arah bauran kebijakan terbaru di Indonesia, rupiah mungkin yang paling sensitif,” jelas McKenna dalam laporan yang dikutip Bloomberg, Jumat, 19 September 2025.
Respons Bank Indonesia dan Pemerintah
Bank Indonesia sebelumnya memangkas suku bunga acuan menjadi 4,75% dengan alasan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Baca Juga: Papua Tengah Diguncang Gempa M5,1, Berpusat di Nabire dengan Kedalaman 20 Km
Namun keputusan ini sekaligus menambah sentimen negatif terhadap rupiah karena selisih imbal hasil dengan aset dolar kian tipis.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya YS menegaskan pemerintah tetap berhati-hati menjaga defisit anggaran di bawah 3% pada 2026.
Artikel Terkait
Transaksi Lintas Batas Indonesia Mencapai Rp232,5 Triliun
Geger Duit Nasabah Sekuritas Rp70 Miliar Raib Misterius, OJK Langsung Bikin Aturan Baru RDN
Rivan Kurniawan Sebut Rumor Pasar Jadi Faktor Kunci di IPO 'EMAS': Fundamental Nomor Dua
Rivan Kurniawan Ungkap Keterlibatan Boy Thohir di Balik IPO EMAS Bikin Banyak Investor Mau Beli Sahamnya
Rivan Kurniawan Sebut Sosok 'Koboy' Purbaya Dibutuhkan Perbankan Sebagai 'Bumbu Dapur' Pendorong Kredit