• Sabtu, 18 April 2026

Stimulus Rp200 Triliun Belum Redakan Kekhawatiran Investor Asing di Indonesia

Photo Author
Ari DP, Konteks.co.id
- Minggu, 14 September 2025 | 14:54 WIB
Nilai Tukar Rupiah Anjlok Hadapi Dolar AS Hari Ini, Benarkah Rp16.300 Jadi Batas Baru? (Canva.com)
Nilai Tukar Rupiah Anjlok Hadapi Dolar AS Hari Ini, Benarkah Rp16.300 Jadi Batas Baru? (Canva.com)

KONTEKS.CO.ID - Pasar keuangan Indonesia tengah diterpa badai setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan kocok ulang kabinet, salah satunya mengganti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan Purbaya Yudhi Sadewa.

Langkah itu mengguncang kepercayaan investor asing, yang bulan ini mencatat penarikan modal hingga USD653 juta dari bursa saham, periode terburuk sejak April lalu.

“Indonesia sedang mengalami masa ketidakpastian ekonomi yang tinggi,” kata Jason DeVito, portfolio manager senior untuk utang pasar berkembang di Federated Hermes, seperti dikutip dari Bangkok Post.

Baca Juga: Thailand Jadi Incaran Investor saat Indonesia Dilanda Gejolak

Menurutnya, perubahan politik itu menambah unsur ketidakpastian, terlebih mengingat reputasi panjang Sri Mulyani dalam menjaga disiplin fiskal.

Purbaya, yang sebelumnya kurang dikenal investor global, berupaya meredam kekhawatiran dengan suntikan sekitar Rp200 triliun ke sistem perbankan.

Hal itu dilakukan untuk mendorong penyaluran kredit dan pertumbuhan.

Baca Juga: KPK Endus Persekongkolan WhatsApp Tersangka Korupsi Lahan Tol Trans Sumatera, Kerugian Capai Rp205 Miliar

Dana tersebut diambil dari cadangan kas Rp400 triliun hasil sisa anggaran.

“Pemerintah akan menambah lebih banyak jika memang diperlukan,” ujar Purbaya.

Namun, sejumlah pengamat menilai langkah itu hanya solusi jangka pendek.

Baca Juga: Operasi Sampah Akibat Banjir Bali Ditargetkan Selesai Satu Bulan, TPA Suwung Jadi Pusat

“Ekonomi Indonesia secara umum masih lemah, dan stimulus sekali waktu ini hanya memberi kelegaan sementara,” kata John Foo dari Valverde Investment Partners.

Kekhawatiran investor juga tercermin di pasar obligasi, ketika kurva imbal hasil berada di level paling curam dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ari DP

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X