“Ini saatnya Nigeria meningkatkan produksi lokal, jika tidak, apa yang terjadi di rantai pasok kakao bisa terulang di minyak sawit,” ujarnya.
Menurut pelaku industri, Nigeria sebagai produsen minyak sawit terbesar kelima dunia bisa memanfaatkan momentum ini jika ada penanaman pohon baru dan kebijakan yang lebih baik untuk membatasi impor ilegal.
Saat ini, Nigeria memproduksi rata-rata 1,5 juta ton minyak sawit per tahun, sementara kebutuhan domestik terus meningkat. Negara itu memiliki selisih pasokan sekitar 450.000 ton yang selama ini dipenuhi lewat impor.
Sepanjang 2024, ekspor CPO global tumbuh 1,7 persen menjadi 44,2 juta ton, dengan Indonesia menyumbang 51,1 persen dan Malaysia 34,9 persen.
Baca Juga: Dipancing Diskon, Ekspor Minyak Sawit Indonesia Melonjak 53 Persen
Afrinvest mencatat, pertumbuhan ekspor ini ditopang permintaan global yang kuat, meski ada tantangan seperti hambatan logistik, keterlambatan pengiriman, dan kebijakan dagang yang ketat dari negara pengekspor utama.
Afrinvest menyimpulkan, tren ini menjadi peluang strategis bagi Nigeria untuk menghidupkan kembali sektor kelapa sawitnya dan menutup kekurangan pasokan 450 ribu ton per tahun dengan meningkatkan investasi, memperbaiki produktivitas kebun, dan mendorong penggunaan teknologi panen yang lebih modern.***
Artikel Terkait
Wilmar Group Kembalikan Rp11,8 Triliun ke Negara, Siapa Sebenarnya Raksasa Sawit Ini?
Dibabat buat Lahan Kelapa Sawit dan Permukiman, Taman Nasional Tesso Nilo Coba Dipulihkan
Sedih, Ekspor Sawit Indonesia Turun 39 Persen, Uni Eropa Masih Jadi Ganjalan
Pemerintah Menaikkan Harga Acuan Minyak Kelapa Sawit Mentah Jadi Rp14,2 Juta per Ton