KONTEKS.CO.ID - Harga minyak sawit dunia diperkirakan mencapai USD1.200 atau Rp19,6 juta per metrik ton pada 2025.
Harga itu naik dari USD900, seperti laporan terbaru dari Afrinvest West Africa.
Kenaikan sekitar 33 persen ini didorong lonjakan harga minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia dan Malaysia, dua produsen terbesar dunia, serta faktor fundamental yang kuat di sektor tersebut.
Afrinvest menyebutkan proyeksi itu terkait dengan sejumlah faktor, termasuk ekspektasi kenaikan harga minyak mentah yang membuat biofuel makin menarik.
Baca Juga: Potret Agrinas Palma Nusantara, Raksasa Baru Industri Sawit di Indonesia, Modal dari Kebun Sitaan
Kemudian optimisme meredanya ketegangan dagang antara AS dan China yang berpotensi mendukung permintaan minyak nabati, serta berkurangnya pasokan akibat kebijakan mandatori biofuel di Indonesia dan Malaysia.
“Meski dalam lima bulan pertama 2025 harga CPO turun 16,3 persen ke USD900 per ton, kami memperkirakan harga akan kembali naik dan bertahan di sekitar USD1.200 per ton hingga akhir tahun,” tulis Afrinvest.
Harga CPO global sebelumnya telah melonjak 36,2 persen secara tahunan menjadi USD1.086 per ton pada 2024, tertinggi sejak Juli 2022.
Kenaikan itu dipicu kebijakan B35 Indonesia, gangguan pasokan akibat El Nino, serta meningkatnya permintaan ketika konsumen beralih dari minyak bunga matahari akibat ketegangan geopolitik.
Baca Juga: Indonesia Minta India Terapkan Kebijakan Impor Minyak Sawit yang Lebih Pasti, ini Alasannya
B35 adalah jenis bahan bakar yang merupakan campuran dari 35 persen biodiesel (berasal dari minyak kelapa sawit) dan 65 persen bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
Ketegangan di Rusia dan Ukraina telah mengganggu lebih dari 70 persen ekspor minyak bunga matahari global tahun lalu, mendorong peralihan ke CPO dan menambah tekanan harga di pasar minyak nabati.
Namun, menurut Afrinvest, lonjakan harga ini juga membuka peluang bagi Nigeria.
Presiden Asosiasi Produk Kelapa Sawit Nasional Nigeria, Alphonsus Inyang, mengingatkan ketergantungan negaranya pada impor dari Malaysia dan Indonesia berisiko dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
Wilmar Group Kembalikan Rp11,8 Triliun ke Negara, Siapa Sebenarnya Raksasa Sawit Ini?
Dibabat buat Lahan Kelapa Sawit dan Permukiman, Taman Nasional Tesso Nilo Coba Dipulihkan
Sedih, Ekspor Sawit Indonesia Turun 39 Persen, Uni Eropa Masih Jadi Ganjalan
Pemerintah Menaikkan Harga Acuan Minyak Kelapa Sawit Mentah Jadi Rp14,2 Juta per Ton