KONTEKS.CO.ID - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nikel) terus memperkuat posisinya sebagai pionir hilirisasi nikel nasional dengan mengoperasikan 12 lini fasilitas smelter berbasis teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Kapasitas produksinya kini mencapai 185.000 ton feronikel per tahun, menjadikan perusahaan ini sebagai salah satu pemain utama industri pemurnian nikel di Indonesia.
“Artinya, kapasitas penuh 12 lini produksi feronikel Harita itu mencapai 185.000 ton per tahun,” ungkap Joseph Sinaga, Corporate Communications Superintendent Harita Nickel, saat ditemui di kawasan tambang dan smelter terintegrasi Harita di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Jumat, 13 Juni 2025.
Baca Juga: Cara Menaikkan Limit Livin Paylater Bank Mandiri, Unlimited!
Ekspansi Bertahap Sejak 2015
Sejak 2015, Harita Nikel mulai membangun smelter pertamanya dengan 4 lini produksi. Pada 2016, perusahaan mencatat produksi perdana feronikel sebanyak 25.000 ton per tahun. Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen Harita dalam mendukung larangan ekspor bijih nikel dan kebijakan hilirisasi pemerintah.
Ekspansi berlanjut pada 2022 lewat anak usaha PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF) yang mengoperasikan 8 lini tambahan dengan kapasitas 95.000 ton Ni per tahun.
Saat ini, smelter ketiga yang dikelola oleh PT Karunia Permai Sentosa (KPS) sedang dalam tahap konstruksi tahap awal. Fasilitas ini akan menambah 4 lini produksi dengan target kapasitas 60.000 ton Ni per tahun.
Baca Juga: Gandeng Autocraft, Perusahaan Giring Ganesha Siapkan Operasional Taksi Terbang di Indonesia
Penjualan Feronikel Naik 25 Persen
Berdasarkan laporan perusahaan, volume penjualan feronikel pada 2024 melonjak sebesar 25% secara tahunan (year-on-year), dari sebelumnya 100.891 ton menjadi 126.344 ton.
Peningkatan ini mencerminkan permintaan global yang tetap kuat serta efisiensi operasional yang terus ditingkatkan. Harita Nikel pun mengincar pasar ekspor strategis dan memperluas jaringan hilirisasi dalam negeri.
Komitmen terhadap Hilirisasi Nasional
Joseph menegaskan bahwa Harita merupakan perusahaan pertama yang secara serius merespons larangan ekspor bijih nikel dan menjadi pelopor hilirisasi di Indonesia.
“Salah satu smelter feronikel pertama di Indonesia yang dibangun pada 2016 adalah milik Harita, yakni smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF),” kata Joseph.
Langkah strategis ini turut mendukung transformasi ekonomi Pulau Obi yang pada 2020 ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan dikembangkan menjadi Kawasan Industri Obi, berfokus pada pengolahan nikel terintegrasi dari hulu ke hilir.
Baca Juga: Real Madrid Resmikan Transfer Franco Mastantuono dari River Plate
Artikel Terkait
Institut USBA Desak Pemerintah Cabut IUP PT Gag Nikel dan Audit Kerusakan Lingkungan Raja Ampat
Kapal Nikel Berinisial JKW, Jokowi: Alhamdulillah Kalau Punya Kapal
Tiga Sikap Komnas HAM Soal Tambang Nikel di Raja Ampat
Soal Izin PT GAG Nikel di Raja Ampat Tak Dicabut Pemerintah, Ini Informasi yang Didapat Komnas HAM
Beredar Kabar PBNU Kecipratan Aliran Dana PT Gag Nikel, Gudfan Arif: Sangat Keji!