• Sabtu, 18 April 2026

IRGC Rilis Video Pengusiran 2 Kapal Perusak AS di Selat Hormuz: Last Warning!

Photo Author
Rizki Adiputra, Konteks.co.id
- Selasa, 14 April 2026 | 05:44 WIB
Iran berhasil usirdua kapal perang AS yang nekat memasuki Selat Hormuz di tengah gencatan senjata Iran-AS (Foto: IRGC)
Iran berhasil usirdua kapal perang AS yang nekat memasuki Selat Hormuz di tengah gencatan senjata Iran-AS (Foto: IRGC)

KONTEKS.CO.ID - Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah pasukan Iran mengklaim berhasil menghalau kapal perang Amerika Serikat (AS) dari Selat Hormuz

Video yang dirilis militer Iran memperlihatkan momen dramatis saat dua kapal perusak AS disebut mundur usai mendapat peringatan keras.

Video IRGC Kapal AS Dipukul Mundur

Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mempublikasikan rekaman yang menunjukkan interaksi langsung antara pasukan laut Iran dan kapal militer Amerika Serikat di kawasan timur Selat Hormuz.

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu, 11 April 2026. Dua kapal perusak milik Amerika Serikat, yakni SS Michael Murphy (DDG-112) dan USS Frank E. Petersen Jr. (DDG-121) yang disebut terlibat langsung dalam kejadian itu.

Baca Juga: Sejumlah Menteri Israel Beri Sinyal Zionis Segera Serang Iran Lagi

Menurut Iran, kedua kapal tersebut berada di sekitar perairan timur Selat Hormuz, tepatnya dekat Fujairah dan Laut Oman, sebelum akhirnya mendapat peringatan keras.

Dalam narasi yang disampaikan, dua kapal perusak AS disebut menjauh setelah mendapat peringatan dari Angkatan Laut IRGC.

Tayangan ini langsung memicu perhatian karena terjadi di jalur laut paling strategis dunia.

Rekaman yang disiarkan oleh Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) memperdengarkan komunikasi radio dengan nada tegas dari pihak Iran.

"Attention U.S. Navy warship, transiting near Fujairah Port and Oman Sea; this is IRGC Navy; last warning, last warning, last warning!" seru petugas militer Iran.

Peringatan tersebut sekaligus sebagai sinyal bahwa Iran tidak akan menoleransi kehadiran kapal militer asing di wilayah yang dianggap sensitif.

Dalam rekaman yang sama, petugas IRGC bahkan memerintahkan kapal perang AS untuk segera berbalik arah menuju Samudera Hindia.

"Jika tidak mematuhi perintah saya, Anda akan menjadi target," tegasnya.

Iran Tegaskan Batasan Ketat

Melalui pernyataan resminya, IRGC menegaskan sikap tegas terhadap setiap aktivitas militer asing di Selat Hormuz

Baca Juga: Iran dan AS Gagal Capai Kata Sepakat, Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 Per Barel

Mereka memperingatkan bahwa kapal perang yang mencoba melintas akan menghadapi tindakan langsung.

Pihak Iran juga menegaskan bahwa akses di selat tersebut hanya diperbolehkan bagi kapal sipil dalam kondisi tertentu, memperlihatkan kontrol ketat terhadap jalur vital tersebut.

Bantahan Keras terhadap Klaim AS

Militer Iran secara terbuka membantah laporan dari United States Central Command (Centcom) yang sebelumnya menyatakan kapal perang AS berhasil memasuki kawasan Selat Hormuz.

“Klaim komandan Centcom bahwa kapal-kapal Amerika mendekati dan memasuki Selat Hormuz sangat dibantah,” ujar Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengutip Tasnim, Selasa, 14 April 2026.

AS Ngaku Kapal Sedang Bersihkan Ranjau

Sebelumnya, Centcom mengumumkan bahwa pihaknya telah memulai operasi untuk menciptakan kondisi aman bagi pembersihan ranjau laut di kawasan tersebut sejak 11 April 2026.

Dalam operasi itu, dua kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS diklaim berhasil melintasi titik sempit strategis Selat Hormuz. Jika benar, ini menjadi momen pertama sejak konflik Iran-AS pecah pada Februari lalu.

Baca Juga: Iran dan AS Gagal Capai Kata Sepakat, Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 Per Barel

Pihak AS menyebut misi ini sebagai langkah awal menuju operasi skala besar untuk menjaga jalur pelayaran tetap aman.

Selat Hormuz, Titik Panas Dunia

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia. Sebagian besar pasokan minyak global melewati wilayah ini.

Karena itu, setiap ketegangan militer di kawasan tersebut berpotensi memicu dampak luas, mulai dari lonjakan harga energi hingga risiko konflik terbuka antarnegara.

Situasi terbaru ini kembali menunjukkan bahwa Selat Hormuz masih menjadi episentrum ketegangan antara Iran dan AS.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Rizki Adiputra

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Paus Leo XIV Merespons Serangan Terbaru Trump

Kamis, 16 April 2026 | 09:25 WIB
X