KONTEKS.CO.ID - Ketegangan geopolitik kembali mencuat setelah laporan intelijen Amerika Serikat (AS) mengindikasikan adanya potensi pengiriman sistem pertahanan udara dari China ke Iran dalam waktu dekat.
Laporan itu muncul di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh antara Iran dan AS.
Diduga Lewat Jalur Negara Ketiga
Dalam laporan tersebut, Iran disebut-sebut tengah memanfaatkan masa gencatan senjata untuk memperkuat kembali persenjataannya, termasuk melalui dukungan mitra internasional.
Baca Juga: Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz, Ketegangan AS dan Iran Tambah Panas
Ada indikasi bahwa Beijing mencoba menyalurkan bantuan militer tersebut melalui negara perantara guna menyamarkan asal pengiriman.
Sistem Senjata Jadi Sorotan
Jenis persenjataan yang diduga akan dikirim adalah 'Manpads', yaitu rudal anti-pesawat yang dapat diluncurkan dari bahu.
Sistem ini dikenal efektif untuk menyerang pesawat yang terbang rendah.
Keberadaan senjata tersebut dinilai berpotensi meningkatkan ancaman terhadap operasi militer, khususnya bagi pesawat AS jika konflik kembali memanas.
Bantahan Tegas dari China
Menanggapi tuduhan tersebut, pihak China langsung memberikan klarifikasi melalui perwakilan diplomatiknya di Washington.
“China tidak pernah menyediakan senjata kepada pihak mana pun dalam konflik; informasi yang dimaksud tidak benar,” sebut bantahan itu melansir Anadolu, Senin, 13 April 2026.
“Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China secara konsisten memenuhi kewajiban internasionalnya. Kami mendesak pihak AS untuk menahan diri dari membuat tuduhan tanpa dasar, membuat hubungan yang jahat, dan terlibat dalam sensasionalisme; kami berharap pihak-pihak terkait akan berbuat lebih banyak untuk membantu meredakan ketegangan," serunya lagi.
Gencatan Senjata Masih Rentan
Gencatan senjata dua pekan antara Iran dan AS mulai diberlakukan sejak Rabu pekan lalu, menyusul konflik bersenjata yang berlangsung sejak akhir Februari, yang juga melibatkan Israel.
Konflik tersebut menimbulkan korban besar. Otoritas Iran melaporkan hampir 3.000 warganya tewas, sementara pihak Amerika Serikat kehilangan sedikitnya 13 personel militernya dan puluhan lainnya mengalami luka.
Baca Juga: Negosiasi Buntu, Pakistan Berharap Tetap Jadi Penengah AS dan Iran
Selain korban jiwa, konflik juga berdampak pada jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dunia.
Isu dugaan pengiriman senjata ini kian menambah ketidakpastian di tengah upaya meredakan konflik.
Jika benar terjadi, langkah tersebut berpotensi memicu eskalasi baru dan mengancam stabilitas kawasan.
Situasi ini membuat gencatan senjata yang ada semakin diuji, sekaligus meningkatkan perhatian dunia terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah.***
Artikel Terkait
Biodata Jared Kushner, Menantu Trump Jadi 'Kartu As' Negosiasi AS Iran di Pakistan Meski Tanpa Jabatan Resmi
Negosiasi 21 Jam AS Iran Gagal Total! Teheran Tolak Tuntutan 'Tak Masuk Akal' Washington Soal Nuklir
AS dan Iran Saling Lempar Klaim Usai Negosiasi 21 Jam Berakhir Buntu
Negosiasi Buntu, Pakistan Berharap Tetap Jadi Penengah AS dan Iran
Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz, Ketegangan AS dan Iran Tambah Panas