KONTEKS.CO.ID - Tim negosiasi Iran akhirnya tiba di Islamabad, Pakistan pada Jumat, 10 April 2026 untuk pembicaraan damai dengan Amerika Serikat, meski Teheran bersikeras pada langkah-langkah yang menurut mereka perlu ditangani terlebih dahulu, sehingga menimbulkan keraguan di menit-menit terakhir atas pertemuan tersebut.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dalam perang enam minggu pada Selasa lalu hanya beberapa jam sebelum batas waktu yang setelahnya Trump mengancam akan menghancurkan peradaban Iran.
Gencatan senjata telah menghentikan serangan udara AS dan Israel terhadap Iran.
Baca Juga: Iran Bantah Serang Negara Teluk di Tengah Gencatan Senjata, Tuding AS-Israel Biang Keroknya
Namun, hal itu belum mengakhiri blokade Iran terhadap Selat Hormuz, yang telah menyebabkan gangguan terbesar yang pernah terjadi pada pasokan energi global, atau meredakan perang paralel antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan bahwa Washington sebelumnya telah setuju untuk membuka blokir aset Iran dan gencatan senjata di Lebanon, dan menambahkan bahwa pembicaraan tidak akan dimulai sampai janji-janji tersebut dipenuhi.
Delegasi Iran sendiri dipimpin oleh Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa rombongan tersebut terdiri dari sekitar 70 anggota, termasuk spesialis teknis di bidang ekonomi, keamanan, dan politik serta personel media dan staf pendukung, yang mencerminkan apa yang digambarkan sebagai sensitivitas tinggi dari negosiasi tersebut.
Tetap Tak Percaya Amerika Serikat
Berbicara dari Islamabad, Qalibaf mengatakan Teheran memiliki niat baik terhadap negosiasi tetapi tidak percaya pada Amerika Serikat.
"Iran siap mencapai kesepakatan jika Washington menawarkan apa yang digambarkannya sebagai perjanjian yang tulus dan memberikan hak-hak Iran," demikian dilaporkan media pemerintah Iran.
Meski tidak ada komentar langsung dari Gedung Putih mengenai tuntutan Iran, Trump mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa satu-satunya alasan Iran masih hidup adalah untuk menegosiasikan kesepakatan.
"Orang Iran tampaknya tidak menyadari bahwa mereka tidak memiliki kartu apapun, selain pemerasan jangka pendek terhadap dunia dengan menggunakan jalur air internasional. Satu-satunya alasan mereka masih hidup hari ini adalah untuk bernegosiasi!" katanya.
Baca Juga: Prabowo Mau Sambangi Rusia di Tengah Memanasnya Konflik Iran-AS, Ada Agenda Besar Apa?
Sementara, Wakil Presiden AS, JD Vance yang akan memimpin delegasi AS, mengatakan ia mengharapkan hasil positif saat menuju Pakistan.
"Jika mereka mencoba mempermainkan kita, maka mereka akan menemukan bahwa tim negosiasi tidak begitu responsif," tuturnya.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dalam pidato nasional pada Jumat malam, menjabarkan taruhan dari pembicaraan tersebut.
"Gencatan senjata permanen adalah fase sulit berikutnya, yaitu menyelesaikan masalah-masalah rumit melalui negosiasi. Ini, seperti yang disebut dalam bahasa Inggris, adalah fase penentu," ujar Sharif.***
Artikel Terkait
Masih Terus Serang Lebanon di Tengah Gencatan Senjata, Iran Sebut Israel 'Anjing Gila' AS
Iran Ancam Batalkan Gencatan Senjata Usai Israel Serang Lebanon, Selat Hormuz Bakal Ditutup?
Biadab! Sudah Langgar Gencatan Senjata Iran-AS, Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza
Putin Perintahkan Gencatan Senjata Mendadak demi Paskah Ortodoks: Strategi Baru atau Jeda Sejenak?
Iran Bantah Serang Negara Teluk di Tengah Gencatan Senjata, Tuding AS-Israel Biang Keroknya