KONTEKS.CO.ID - Isu "Geng Solo" yang mencuat pasca-kerusuhan dinilai bukan sekadar istilah biasa, melainkan sebuah smoke screen atau tabir asap yang sengaja diciptakan untuk mengalihkan perhatian dari dalang kerusuhan sebenarnya.
Pakar intelijen, Ridlwan Habib, menegaskan bahwa narasi ini sengaja ditiupkan untuk memojokkan lingkaran Presiden dan merusak citra Kota Solo.
"Istilah 'Geng Solo' itu sengaja ditiupkan sebagai smoke screen. Ini berbahaya karena tujuannya adalah menciptakan kambing hitam untuk kerusuhan," ujar Ridlwan dalam unggahan video akun Youtube Unpacking Indonesia, 13 September 2025.
Baca Juga: Polemik Pagar Beton Laut Cilincing, Pemprov DKI Akui Tak Bisa Hentikan Proyek karena Izin KKP
Menurutnya, situasi ini menuntut sebuah respons simbolik yang kuat dari pucuk pimpinan negara.
Gestur kekompakan antara Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dianggap krusial untuk meredam tensi politik yang kian memanas.
"Yang lebih penting sekarang adalah simbol dan gestur bahwa Pak Prabowo dan Mas Gibran ini satu kesatuan, kompak. Itu yang saya kira belum muncul hari-hari ini dan itu penting," tegasnya.
Baca Juga: Harta Zita Anjani Rp89,7 Miliar di LHKPN, dari Properti Puluhan Miliar hingga Alphard
Desakan untuk Polri dan Bahaya Framing
Ridwan menyoroti bahaya dari narasi "Geng Solo" yang tidak hanya merugikan secara politis, tetapi juga melukai masyarakat Solo.
Ia mendorong tokoh-tokoh dan warga Solo untuk bersuara menolak stigma negatif yang dilekatkan pada kota mereka.
Lebih jauh, ia mendesak Kepolisian RI (Polri) untuk segera mengumumkan hasil investigasi mengenai siapa aktor intelektual di balik kerusuhan.
Baca Juga: Mentan Amran Yakin Indonesia Capai Swasembada Beras Hanya Dalam 3 Bulan ke Depan
Tanpa kejelasan dari aparat, ruang publik akan terus diisi oleh teori konspirasi dan tuduhan liar yang dapat membenturkan berbagai kelompok di masyarakat.
"Saya skeptis dengan semua politisi (yang menyebarkan informasi tanpa data). Polri harus segera umumkan hasil penyelidikannya agar jelas siapa dalangnya, jangan sampai publik diadu domba oleh narasi semacam ini," jelas Ridwan.