nasional

Kementerian UMKM Perkuat Hilirisasi dan Digitalisasi Produksi Kratom di Kalimantan Barat

Jumat, 15 Agustus 2025 | 22:31 WIB
Asistensi produksi melalui layanan digital dan hilirisasi komoditas kratom.

KONTEKS.CO.ID – Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mendorong percepatan hilirisasi dan transformasi digital usaha kecil pengolah kratom di Kalimantan Barat (Kalbar), Kamis, 14 Agustus 2025.

Upaya ini sejalan dengan Program Prioritas Nasional RPJMN 2024–2029, yang menempatkan hilirisasi sumber daya alam sebagai strategi kunci peningkatan nilai tambah produk, perluasan pasar, dan penciptaan lapangan kerja.

Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM Temmy Satya Permana menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar proses industri, melainkan langkah strategis untuk mengangkat daya saing produk nasional.

“Usaha skala kecil memegang peran penting dalam struktur ekonomi Indonesia. Sudah sepatutnya mereka dilibatkan dalam hilirisasi, termasuk komoditas kratom yang memiliki potensi besar,” katannya.

Baca Juga: KPI Imbau Televisi dan Radio Tayangkan Siaran Kemerdekaan di Momen HUT Ke-80 RI

Ia menyambut baik digelarnya kegiatan Asistensi Produksi melalui Layanan Digital di Pontianak, Kalbar.

Menurut Temmy, berdasarkan Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) Kementerian UMKM, sebanyak 93,95% UMKM masih menggunakan peralatan manual atau semi-manual.

Hal ini membuat produktivitas tenaga kerja di sektor UMKM rata-rata 20–30% lebih rendah dibandingkan industri skala menengah dan besar.

“Tantangan utama yang dihadapi UKM dalam berproduksi adalah keterbatasan teknologi dan SDM terampil. Survei MarkPlus Insight bahkan mencatat 53,6% pengusaha UKM mengaku teknologi masih menjadi kendala utama,” kata Temmy.

Baca Juga: Presiden Prabowo Minta Danantara Setor Minimal Rp808 Triliun per Tahun ke Kas Negara  

Temmy mengatakan, hilirisasi kratom akan mampu memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian daerah.

“Di Kabupaten Kapuas Hulu saja, potensi penyerapan tenaga kerja bisa meningkat dari 18.000 menjadi 57.805 keluarga per tahun. Nilai tambahnya pun luar biasa dari daun basah Rp4.000/kg, daun kering Rp20.000–Rp30.000/kg, hingga produk olahan minyak CBD (cannabidiol) kratom yang di pasar internasional bisa mencapai 120 dolar AS per 50 ml,” katanya.

Kratom atau daun purik (Mitragyna speciosa) adalah tanaman tropis yang banyak tumbuh di wilayah Asia Tenggara, seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Halaman:

Tags

Terkini