• Sabtu, 18 April 2026

Akademisi Australia: Fenomena Hercules Cermin Kegagalan Negara Lindungi Rakyat

Photo Author
Ari DP, Konteks.co.id
- Rabu, 7 Mei 2025 | 21:14 WIB
Hujan kritik tertuju pada GRIB Jaya pimpinan Hercules. (YouTube Seleb Oncam News)
Hujan kritik tertuju pada GRIB Jaya pimpinan Hercules. (YouTube Seleb Oncam News)

KONTEKS.CO.ID - Nama Hercules Rosario Marshall selama ini identik dengan sosok kontroversial yang kerap dikaitkan dengan dunia kekerasan, premanisme, dan kekuasaan informal.

Akademisi Australia, Ian Douglas Wilson, menjadikan Hercules sebagai bahan kajian serius yang mengungkap wajah gelap negara pasca-Orde Baru.

Dalam bukunya yang berjudul ‘The Politics of Protection Rackets in Post-New Order Indonesia’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai ‘Politik Jatah Preman’, Wilson membedah fenomena Hercules sebagai produk dari kekosongan peran negara dalam melindungi dan menciptakan keadilan.

"Hercules bukan hanya individu, melainkan simbol dari absennya negara di ruang-ruang vital masyarakat," tulis Ian Wilson dalam bukunya.

Wilson bahkan menyebut Hercules sebagai "makelar kekerasan" yang tumbuh di celah sistem demokrasi yang tidak sempurna.

Ia menjelaskan bahwa kekuasaan Hercules tak hanya bersumber dari otot, tapi dari jejaring loyalitas serta ambiguitas hukum yang dibiarkan tumbuh oleh negara.

Ian memberi ‘coercive capital’, modal koersif untuk membentuk otoritas tanpa legitimasi resmi.

Lebih dari sekadar analisis kriminalitas, buku Wilson adalah kritik tajam terhadap demokrasi Indonesia yang menurutnya "dipenuhi bayangan".

Bayangan yang dimaksud adalah kekuatan informal—seperti ormas atau kelompok preman—yang justru kerap menjadi mitra elite politik dan ekonomi.

Mereka mengisi kekosongan negara dengan tawaran "perlindungan", yang seringkali merupakan bentuk pemerasan terselubung.

Wilson juga menyoroti fenomena ini dalam konteks yang lebih kekinian.

Ia menyebut bagaimana "mitra lingkungan" mengetuk pintu perusahaan dengan proposal keamanan, tanpa menyebut kata "jatah”" tetapi makna implisitnya sangat terasa.

"Premanisme hari ini bisa tampil dalam jas rapi, surat resmi, hingga foto bersama politisi, tapi tetap membawa warisan dunia lama yang jauh dari keadilan dan kepastian hukum," sebut Wilson.

Melalui sosok Hercules, Wilson mengajak pembaca melihat demokrasi Indonesia dari sisi gelapnya—sebuah sistem yang membiarkan kekuasaan informal tumbuh subur karena negara terlalu lama absen.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ari DP

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X