Persidangan para agen digelar akhir 1954 dengan pengawalan ketat.
Bukti-bukti kuat dipaparkan, termasuk bom, kamera rahasia, dan rekaman pengakuan.
Baca Juga: Lika-liku Relasi Benny Mordani dan Ali Moertopo, Dua Raja Intel Kepercayaan Soeharto yang Terhempas
AS merasa dikhianati karena fasilitas diplomatiknya menjadi target. Hubungan AS-Israel pun merenggang.
Pada Januari 1955, hakim militer Mesir menjatuhkan vonis. Ismail Azar dan Moshe Marzouk dihukum gantung karena peran sentralnya.
Agen lain seperti Marcel Ninio dan Philip Natanson mendapat hukuman seumur hidup.
Baca Juga: Operasi Senyap 4 Januari 1946: 'Kereta Malam' Bung Karno dan Hijrahnya Ibu Kota Negara ke Yogyakarta
Israel menetapkan hari berkabung nasional, tetapi tetap bungkam soal siapa sebenarnya yang memerintahkan operasi.
Publik Israel marah, menuntut jawab atas misi yang mereka sebut “bunuh diri politik”.
Skandal ini berubah menjadi krisis moral nasional. Banyak yang mempertanyakan etika memanfaatkan warga Yahudi negara lain sebagai pion operasi berbahaya.
Baca Juga: Kiai Sadrach, 'Masjid Kristen', dan Imam yang Zonder Tunduk pada Misi Zending
Operasi Sunannah menjadi noda kelam dalam sejarah intelijen Israel. Sementara, Nasser muncul sebagai pemenang di panggung diplomasi internasional.
Ia berhasil membuktikan ancaman terhadap stabilitas Timur Tengah saat itu bukan berasal dari Kairo, tetapi dari Tel Aviv.
Epic Fury, Operasi Melucuti Iran
Di bawah kepemimpinan Presiden Donald J. Trump, Angkatan Bersenjata AS menjalankan Operasi Epic Fury dengan kekuatan luar biasa, ketepatan yang mematikan, dan tekad yang tak tergoyahkan.
Sejak jam-jam awal operasi ini tujuannya sudah jelas.
Artikel Terkait
Gugur Diserang Tentara IDF Israel, Ulama MUI Sebut 3 Prajurit TNI Mati Syahid!
Gelombang Baru Serangan Mematikan ‘True Promise 4’ Iran: IRGC Kirim Rudal Qiam, Emad, dan Qadr ke Israel Tengah
IRGC Rilis Foto Kursi Pesawat Tempur F-35 AS yang Hancur Dihajar Sistem Pertahanan Baru Iran
40 Negara Bentuk Koalisi Global Adang Dominasi Iran di Selat Hormuz