KONTEKS.CO.ID - Kerja sama finansial Indonesia-China makin dalam dengan perluasan penggunaan mata uang lokal dalam berbagai transaksi.
Hal itu seiring meningkatnya perdagangan dan investasi bilateral kedua negara.
Wakil Presiden Bank of China, Yang Jun, menyebut Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN memiliki peran strategis dalam mendorong kerja sama regional.
Baca Juga: Hadapi Ketidakpastian Global, Indonesia Andalkan Kerja Sama Finansial dengan China
Pernyataan itu khususnya melalui mekanisme Local Currency Settlement (LCS).
Mekanisme LCS yang diluncurkan pada 2021 kini telah ditingkatkan menjadi Local Currency Transaction (LCT) pada 2025.
Skema ini memperluas cakupan dari sekadar perdagangan dan investasi menjadi seluruh komponen neraca pembayaran.
Sebagai market maker lintas mata uang dalam skema Indonesia-China serta Indonesia-Thailand-Malaysia.
Bank of China juga memfasilitasi transaksi perdagangan berbasis mata uang lokal bagi sekitar 200 perusahaan dari kedua negara.
Yang Jun menegaskan pihaknya terus memperkuat mekanisme tersebut melalui berbagai inovasi.
Baca Juga: Counting Down! Syifa Hadju Spill Persiapan Nikah Akhir April 2026: Insya Allah Hampir Selesai
“Bank Sentral China akan bekerja sama erat dengan bank sentral, otoritas pengatur, dan lembaga keuangan lainnya untuk terus meningkatkan mekanisme LCT regional,” perkirakan.
Ia menambahkan, penguatan akan dilakukan melalui inovasi produk renminbi, dukungan pembiayaan untuk pasar offshore, hingga membantu perusahaan memperoleh pendanaan melalui penerbitan panda bond.
Artikel Terkait
Pulang dari Seoul, Prabowo Bawa Komitmen Investasi Rp173 Triliun
Investasi Hijau hingga Teknologi Digital Dominasi Kesepakatan Indonesia dan Korsel
Disambut Gibran di Halim, Prabowo Pulang dari Jepang dan Korea Bawa Komitmen Investasi Rp575 Triliun
Nilai Investasi Rp1,2 Triliun Proyek Water Taxi Bali Dimulai 2026, Bandara-Canggu Jadi 30 Menit