KONTEKS.CO.ID - Indonesia memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global melalui kerja sama finansial regional, termasuk dengan China.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan perubahan lanskap global menuntut adaptasi serius dalam arsitektur ekonomi.
"Pola perdagangan berubah. Rantai pasok dikalibrasi ulang. Modal jadi lebih selektif," kata Luhut dalam dialog bisnis multilateral di Jakarta, jelang akhir pekan ini.
Menurutnya, penguatan kerja sama regional, termasuk membangun jaringan pengaman finansial yang lebih kredibel, menjadi semakin penting di tengah tekanan eksternal.
Ia menyoroti pentingnya penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara.
Skema ini dinilai mampu menekan biaya transaksi, meningkatkan kepastian, serta mengurangi ketergantungan terhadap volatilitas nilai tukar.
“Penyelesaian transaksi dalam mata uang lokal dapat mengurangi biaya transaksi, meningkatkan prediktabilitas, dan mengurangi risiko volatilitas nilai tukar,” ujar Luhut.
Lebih jauh, Luhut menekankan isu ini bukan sekadar teknis keuangan, melainkan menyangkut daya tahan ekonomi jangka panjang.
“Pada tingkat yang lebih dalam, ini tentang ketahanan,” ucap Luhut.
“Ini tentang memastikan arsitektur ekonomi kita berkembang seiring dengan perubahan dunia dan ekonomi kita memiliki ruang gerak yang lebih besar di saat-saat ketidakpastian.”
Sebagai bagian dari penguatan tersebut, Indonesia dan China telah memperbarui perjanjian bilateral swap pada Januari 2025 dengan peningkatan nilai hingga 400 miliar yuan atau sekitar USD59 miliar.
Artikel Terkait
Di Balik Hilirisasi Nikel Indonesia, China Pegang Kendali Finansial dan Teknologi
Alasan Rusia dan China Veto Resolusi DK PBB, Balik Menyorot Akar Krisis Selat Hormuz
Rachel Febi Bungkam Peraih Emas Olimpiade di Kandang China! 5 Wakil Indonesia Resmi Pijak 8 Besar BAC 2026
Pilu Indonesia Tanpa Gelar di Badminton Asia Championships 2026: Fajar-Fikri Dilibas Pemain Non-Unggulan, Tiwi-Fadia Dibekuk Raksasa China