• Sabtu, 18 April 2026

Didik J Rachbini: Indonesia Punya Peluang Besar di Balik Krisis Harga Minyak dengan Penguatan Sektor 'Natural Hedge'

Photo Author
Lopi Kasim, Konteks.co.id
- Sabtu, 11 April 2026 | 20:00 WIB
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini sebut soal peluang Indonesia di balik krisis harga minyak dunia (Foto: Instagram/@didikrachbini)
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini sebut soal peluang Indonesia di balik krisis harga minyak dunia (Foto: Instagram/@didikrachbini)

"Tetapi pada saat yang sama, sektor berbasis sumber daya alam (SDA) tertentu justru mengalami windfall effect dan pada masa SBY ketika harga minyak naik tinggi justru sektor ini mampu mendorong ekonomi tumbuh tinggi sekitar 6,5 persen," jelasnya.

Baca Juga: Gantikan Prabowo, Sugiono Resmi Terpilih Sebagai Ketua Umum PB IPSI 2026-2030

"Ini terjadi karena memanfaatkan harga komoditas global ikut naik dengan permintaan ekspor meningkat. Karena depresiasi otomatis meningkatkan daya saing ekspor semakin kuat," imbuhnya.

Profesor Didik menjelaskan sektor yang resilien dan peluang 'Natural Hedge yang menguntungkan. Pertama, pertambangan batubara yang merupakan substitusi langsung terhadap energi minyak di dalam negeri.  

Permintaan global akan meningkat saat harga minyak tinggi menjadi peluang meningkatkan devisa dan penerimaan negara sebagai windfall tas. 

"Sebenarnya, dengan harga naik peningkatan lifting minyak minyak, gas, dan panas bumi bisa ditingkatkan karena secara relatif ongkos produksi menjadi murah," ujarnya. 

Ketiga, tambang bijih logam seperti nikel, timah, dan bauksit. Permintaan pada masa normal sangat tinggi dan lebih tinggi harganya pada saat krisis untuk memenuhi kebutuhan industri global (EV, elektronik, konstruksi).

Baca Juga: OTT KPK Juga Amankan Adik Bupati Tulungagung yang Jadi Anggota Dewan

"Keempat, sumber daya alam yang sukses dalam pengembangannya adalah perkebunan CPO, karet, kakao, kopi dan lainnya. Produk CPO berperan strategis sebagai substitusi energi (biofuel). Dinamika ekspor dominan, diuntungkan oleh depresiasi rupiah. Semua itu adalah berkah dari Tuhan meskipun krisis tetapi kita punya bantalan natural hedging," tuturnya.

Untuk itu, semua potensi harus masuk kerangka kebijakan agar sektor ini menjadi 'winner'. Sektor ini sebagai natural hedge dimana depresiasi rupiah meningkatkan pendapatan ekspor dalam rupiah.

"Struktur Biaya Domestik tidak berubah, sebagian besar biaya produksi berbasis lokal dan tidak tertekan oleh impor mahal," bebernya.

Pemerintah, kata dia, tidak boleh menyerah dengan tekanan krisis harga minyak karena memiliki natural hedge dan mutlak harus kebijakan dalam bentuk Srategi Fiskal Adaptif dengan optimalisasi penerimaan negara dari windfall profit.

"Pengusaha harus berkorban tambahan keuntungan tersebut adalah hak pasal 33 di mana bumi, air, dan kekayaan alam dimanfaatkan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat. Pengusaha tidak rugi ketika pemerintah mengambil tambahan keuntungan akibat dari krisis harga minyak tetapi harus dilakukan dengan transparan," jelasnya.  

Baca Juga: Prabowo Dijadwalkan Bertemu Vladimir Putin di Rusia, Ini yang Dibahas

"Danantara juga mendapat windfall profit dimana perusahaan negara yang bergerak di sektor ini mendapat manfaat. Hasil dari penerimaan secara otpimal dipakai untuk mengatasi krisis ini," lanjutnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lopi Kasim

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X