Menurutnya, ada kemungkinan besar bank sentral AS kembali memangkas suku bunga acuan pada Oktober 2025 mendatang sebesar 25 basis poin.
“Itu yang secara eksternal membuat mata uang rupiah mengalami pelemahan,” kata Ibrahim dalam catatan pasar, mengutip Rabu 24 September 2025.
Baca Juga: Korupsi EDC BRI, Pengakuan Tersangka Indra Utoyo Seusai Digarap Penyidk KPK
Faktor Domestik: Pasar Soroti Sikap Pemerintah
Selain faktor global, pernyataan-pernyataan Menteri Keuangan Purbaya juga ikut memengaruhi sentimen pelaku pasar.
Ibrahim menyoroti bahwa sikap politis yang ditunjukkan pemerintah bisa memicu ketidakpastian, terutama bagi investor asing.
“Saat ini kebanyakan Purbaya lebih banyak memberikan solusi-solusi secara politik. Ini yang sangat disayangkan oleh pasar sehingga rupiah kembali melemah,” jelas Ibrahim.
Baca Juga: Rocky Gerung Soal Prabowo Tunjuk M Qodari Jadi Kepala KSP: 'Reaksi yang Buruk' dan Sinyal Berbahaya
Dengan kondisi itu, arus dana asing berpotensi keluar dari Indonesia, menambah tekanan pada rupiah yang memang sudah rapuh oleh faktor eksternal.
Prediksi Pergerakan Hari Ini
Mengacu pada tren yang terjadi, Ibrahim memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Selasa, 23 September 2025, rupiah masih akan bergerak fluktuatif.
Namun, proyeksinya, mata uang Garuda akan tetap ditutup melemah di kisaran Rp16.600–Rp16.650 per dolar AS.
Baca Juga: KPK Garap 5 Saksi dari Biro Perjalanan dalam Korupsi Kuota Haji, Dalami Dugaan Permintaan Uang
Pasar juga masih menunggu sinyal baru dari The Fed dan perkembangan geopolitik, yang bisa menjadi katalis penting dalam beberapa hari ke depan.***
Artikel Terkait
Hama Jadi Cuan, Perdagangan Kumbang di Indonesia Raup Untung Besar
Likuiditas Ekonomi Tumbuh Cepat, Uang Beredar Capai Rp9.657 Triliun
Kesepakatan Dagang Indonesia dan Uni Eropa Bukan Sekadar Ekonomi, Ada Geopolitik
Pertamina Pastikan Pasokan BBM SPBU Swasta Tiba Tepat Waktu
Danantara Bakal Jalin Kerja Sama dengan Bill Gates di Tiga Bidang, Ada Dana Awal 100 Juta Dolar