KONTEKS.CO.ID - Tahun 2025 menjadi tahun penuh tekanan bagi dunia kuliner di Singapura.
Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 300 outlet makanan dan minuman gulung tikar setiap bulannya.
Angka ini melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya, yang mencatat rata-rata 254 penutupan per bulan.
Baca Juga: Sidak! KKP Temukan Kerusakan Masif Imbas Tambang di Pulau Citlim, Penambangan di Sempadan Pantai
Fenomena ini bukan sekadar masalah bisnis skala kecil.
Restoran papan atas, kafe bergengsi, hingga kedai legendaris yang sudah puluhan tahun berdiri pun ikut tumbang.
Industri kuliner di negeri singa sedang menghadapi krisis terbesar dalam satu dekade terakhir.
Tak Pandang Bulu: Dari Geylang ke Robertson Quay
Baca Juga: Tiket Konser G Dragon di Jakarta Ludes Bersih, All Show Sold Out
Dampak dari badai ekonomi ini menyapu bersih berbagai segmen.
Klub sosial kelas atas 1880 yang berlokasi di Robertson Quay akhirnya menutup pintunya, tak sanggup bertahan di tengah sepinya kunjungan para anggotanya yang makin jarang datang.
Lebih ironis lagi, cabang mereka di Hong Kong tutup hanya beberapa bulan sebelumnya.
Di tengah tekanan biaya yang kian menggila, bahkan kuliner ikonik seperti New Scissor-Cut Curry Rice di Geylang harus angkat tangan, mengakhiri kiprah puluhan tahunnya setelah lebih dari tiga dekade melayani pelanggan.
Baca Juga: Momen Menggemaskan Saat Bocah di Rusia Minta Lego ke Presiden Prabowo
Biaya Meroket, Warga Semakin Irit
Salah satu penyebab utama adalah kenaikan biaya operasional yang sulit ditekan.
Artikel Terkait
Ajaibnya Kursi 11A, Kisah Saksi Hidup Kecelakaan Pesawat, James Ruangsak Loychusak dan Vishwashkumar Ramesh
Rusia Peringatkan Amerika Serikat: Bantuan Militer ke Israel Bisa Picu Kekacauan di Timur Tengah
Amerika Serikat Siap Serang Iran Usai Pernyataan Tak akan Menyerah ke Israel
Ketegangan Politik Israel Meningkat, Dua Menteri Senior Terlibat Adu Tuduhan
FBI Tawarkan US$15 Juta untuk Pencarian Baoxia Liu, Selundupkan Komponen Militer AS ke Iran