KONTEKS.CO.ID - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dianggap telah membuat kegaduhan melalui kebijakan sepihak melarang pengecer menjual LPG 3 kg.
Dengan kebijakan sepihak itu, terjadi kelangkaan gas dan antrean panjang masyarakat yang akan membeli gas melon bersubsidi di pangakalan resmi.
Antrean panjang karena kelangkaan gas bahkan menelan korban jiwa. Seorang ibu berusian 62 tahun di Tangerang Selatan meninggal karena kelelahan.
Dia terpaksa harus berjalan kaki hingga 500 meter ke pangkalan dan antre gas selama satu jam.
Situasi menjadi kacau, antrean warga di mana-mana. Tapi Menteri Bahlil baru menggelar rapat dengan Pertamina. Dia membahas solusi mengenai sub-pangkalan.
Kenapa tidak dipikirkan sejak awal. Atau memang penghapusan pengecer gas bukan kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Kenapa Bahlil grasa-grusu melarang pengecer LPG 3 kg tanpa instruksi Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Tegas Harga Gabah Panen Harus Rp6.500 per Kilo, Penggilingan Tak Patuh Langsung Ditutup
Padahal sebelumnya, Bahlil menyampaikan kalau menteri tak boleh merasa seperti bos. Menteri katanya harus membantu rakyat, bangsa dan negara.
Pernyataan ini disampaikan Bahlil usai rapat terbatas (ratas) dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat, 31 Januari 2025.
"Saya kan pembantu presiden. Jangan ada pembantu yang merasa bos, salah itu kalau pembantu merasa bos, pembantu ya pembantu aja, ada bos. Apalagi untuk rakyat bangsa dan negara ya," kata Bahlil.
Baca Juga: Kemlu Respons Kabar Hamas Dekati Indonesia untuk Relokasi Tahanan Palestina yang Dibebaskan Israel